Langsung ke konten utama

Tata Cara Sholat Istikharoh Lengkap

Sholat Istikharoh – Hidup ini adalah sebuah pilihan. Pilihan antara yang baik dan yang buruk, jalan yang benar atau jalan yang sesat. Pilihan antara yang bermanfaat atau yang mudharat, yang menyenangkan dan yang menyedihkan, dan berbagai pilihan-pilihan lain.

Maka tidaklah mengherankan jika sering sekali dalam hidup, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sangat penting. Bahkan melibatkan penentuan masa depan kita sehingga kita dituntut dan perlu membuat suatu pilihan yang tepat dan terbaik.

Shalat Istikharoh

Sebagai seorang muslim, kita semua tentu menyadari bahwa Allah adalah  Rabb Yang Maha Mengetahui dan Maha Menguasai segala-galanya. Baik yang sudah terjadi, sedang terjadi, dan yang akan terjadi.

Sebaliknya, kita manusia adalah mahkluk yang lemah dan terbatas dalam segala hal. Karenanya, sudah sepatutnya kita menyerahkan segala urusan kita kepada Allah dalam membuat pilihan yang terbaik menurut pengetahuan-Nya.

Banyak manusia yang membuat pilihannya berdasarkan pengetahuan mereka yang terbatas, dan pada akhirnya, banyak pula dari mereka yang menyesal sesudahnya.

Alloh SWT Berfirman:

Surat Al-Baqarah Ayat 216 

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  

Terjemah Arti: Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan) Allah telah mewajibkan kalian (wahai kaum Mukminin), untuk memerangi orang-orang kafir, sedang perang itu perkara yang tidak kalian sukai secara naluri, lantaran berat dan banyaknya ancaman bahaya padanya. Namun, terkadang kalian membenci suatu perkara, padahal hakikatnya nya merupakan suatu yang lebih baik bagi kalian. dan terkadang kalian menyukai sesuatu karena ada kesempatan bersantai atau kesenangan sementara, padahal perkara itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui apa yang terbaik bagi kalian, sedang kalian tidak mengetahuinya. Maka bersegeralah untuk berjihad di jalan Nya.

Baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah, sedangkan baik menurut Allah sudah pasti baik untuk kita. Walaupun kebaikan itu tidak atau belum tampak oleh kita.

Kenyataannya, banyak hal yang sebelumnya kita anggap buruk atau tidak baik, namun pada akhirnya kita mendapatkan perkara itu baik untuk kita. Sungguh, kebaikan itu tidak bisa diukur dengan hanya menggunakan akal manusia yang terbatas.

Rasulullah bersabda:“Sungguh, Allah akan memberi keberkahan pada seseorang yang banyak berdoa dalam hajat yang diinginkannya, baik Allah memberi apa yang dimintanya atau mencegahnya.” (HR.Baihaqi dan al-Khatib).

Dan, sebaik-baik doa adalah sholat. Maka dari itulah, Islam menisyaratkan shalat khusus untuk meminta petunjuk, yaitui dengan melakukan shalat Istikharah.

Sholat Istikharoh adalah shalat untuk meminta petunjuk dari Allah mengenai apa yang terbaik bagi diri kita di masa mendatang baik menyangkut urusan dunia dan agama.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Tidaklah rugi orang yang beristikharah, dan tidaklah menyesal orang yang bermusyawarah.” (HR.Thabrani).

Niat Shalat Istkharah

Semua perbuatan diawali dengan niat, termasuk juga ketika akan menjalankan shalat istikharah. Ketika mau melakukan shalat istikharah diawali dengan membaca niat sholat isthakhoh ebagai berikut.

Bacaan Niat Shalat Istikharoh Arab

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الاِسْتِخَارَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Bacaan Niat Shalat Istikharoh latin

“Ushollii sunnatal istikhooroti rok’ataini lillaahi ta’aalaa”.

Arti Bacaan Niat Shalat Istikharoh

“Aku berniat melaksanakan shalat sunnah istikharah dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Tata Cara Shalat Istikharah

Menurut pendapat para ulama, shalat istikharah boleh berupa shalat sunnah apa saja. Baik itu berupa sholat Sunnah rawatib shalat sunnah tahiyatul masjid, sholat sunnah tahajud, dan sholat sunnah lainnya.

Hal yang paling penting, setelah melakukan shalat sunnah dua rakaat, dilanjutkan dengan berdoa kepada Allah. Dalam doa-nya ini menyebutkan pilihan yang harus dipilih agar mendapatkan pilihan yang terbaik.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضى الله عنهما قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ

Dari Jabir bin Abdullah Ra, berkata, “Rasulullah mengajarkan kepada kami cara mengerjakan shalat istikharah dalam segala urusan, sebagaimana Rasulullah mengajarkan kami Surat Al Qur’an.”

Rasulullah bersabda:

“Jika salah seorang di antara kalian hendak melakukan sesuatu, hendaklah terlebih dahulu mengerjakan shalat dua rakaat selain shalat fardlu, lalu berdoa: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu…”

Berikut tata cara shalat istikharah

Tata cara sholat istikharoh atau rukun sholat istikaharah sama dengan shalat wajib atau shalat-shalat sunnah 2 rakaat lainnya. Berikut tata cara shalat istikharah yang terdiri dari 2 rakaat.

Rukun Rakaat Pertama

  1. Membaca Niat Sholat Istikharah
  2. Membaca Takbiratul ihram, diikuti dengan bacaan do'a iftitah
  3. Membaca surat Al Fatihah
  4. Membaca surat dari Al Qur’an, diutamakan Surat Al Kafirun
  5. Melakukan Ruku dengan tuma’minah
  6. Melakukan Itidal
  7. Melakukan Sujud pertama
  8. Duduk di antara dua sujud
  9. Melakukan Sujud kedua
  10. Berdiri lagi untuk menunaikan rakaat kedua

Rukun Rakaat kedua

  1. Membaca surat Al Fatihah
  2. Membaca surat dari Al Qur’an, diutamakan Surat Al Ikhlas
  3. Melakukan Ruku
  4. Melakukan Itidal
  5. Melakukan Sujud pertama
  6. Duduk di antara dua sujud
  7. Melakukan Sujud kedua
  8. Duduk Tahiyat akhir
  9. Mengucapkan Salam

Pada intinya tata cara shalat istikharah atau rukun shalat istikharah sama dengan tata cara shalat wajib atau rukun shalat wajib 2 rakaat.

Doa Shalat Istikharah

Setelah selesai melaksankan shalat istikharah disunnahkan untuk membaca doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah.

Adapun doa'a sholat istikharoh yang di baca setelah selesai shalat adalah sebagai berikut.

Doa Shalat Istikharoh

Bacaan Doa Shalat Istikharah Arab

اَللّٰهُمَّ اِنِّى اَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَاَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَاَسْئَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ. فَاِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَآاَقْدِرُ وَلَآاَعْلَمُ وَاَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللّٰهُمَّ اِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اَنَّ هَذَااْلاَمْرَ (…) خَيْرٌلِّىْ فِىْ دِيْنِىْ وَمَعَاشِىْ فَاقْدُرْهُ لِىْ وَيَسِّرْهُ لِىْ ثُمَّ بَارِكْ لِىْ فِيْهِ وَاِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اَنَّ هذَااْلاَمْرَشَرٌّلِّىْ فِىْ دِيْنِىْ وَمَعَاشِىْ وَعَاقِبَةِ اَمْرِىْ وَعَاجِلِهِ وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّىْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْهُ لِيَ الْخَيْرَحَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِىْ بِهِ

Bacaan Doa Shalat Istikharah Latin

“Allaahumma inni astakhiiruka bi’ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as aluka min fadlikal ‘aziimi fa innaka taqdiru wa laa aqdiru wa laa a’lamu wa anta ‘allaamul guyuub.”
“Allaahumma in kunta ta’lamu anna haadzal amro (…..) khairul lii fii diinii wa ma’aasyi faqdurhu lii wa yassirhu lii tsumma baarik lii fii hi wa in kunta ta’lamu anna haadzal amro syarrun lii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii wa ‘aajlihii fashrifhu ‘annii wasrifnii ‘anhu waqdurhu liyal-khaira haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bihi.”

Arti Bacaan Doa Shalat Istikharah

“Ya Allah, aku meminta petunjuk kebaikan-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon keputusan-Mu dengan qudrat-Mu dan aku meminta dengan karunia-Mu yang besar, karena sesungguhnya Engkau yang berkuasa sedangkan aku tida berkuasa. Engkau Yang Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui dan Engkau Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.

“Ya Allah, sekiranya engkau ketahui bahwa (sebutkan Pilihan yang dihadapi)baik untukku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhir dari perkaraku ini, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah ia, lalu berkahilah aku padanya.”

“Ya Allah, dan sekiranya engkau mengetahui buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akhir dari perkaraku ini, maka hindarkanlah aku darinya, kemudian takdirkanlah untukku kebaikan bagaimanapun adanya, lalu berilah aku keridhaan dengannya.” (HR. AhmadDan Bukhari).

Makna Doa Shalat Istikharah

Makna dari doa shalat istikharah diatas adalah sebagai berikut:

1. Allaahumma inni astakhiiruka bi’ilmika

Allaahumma inni astakhiiruka bi’ilmika ( اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ) artinya aku meminta petunjuk yang terbaik dari dua perkaraku ini dengan pertolongan ilmu-Mu yang meliputi segala sesuatu.

Sebab, Engkaulah yang lebih mengetahui apa yang terbaik bagimu dan keduanya. Engkaulah Yang Maha Mengetahui keseluruhan dan detail-detail kebaikan di antara keduanya.

Firman Allah pada Al Quran surah Al Baqarah ayat 216:

وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ

Artinya:

“…Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 216)

2. Wa’astaqdiruka

Wa’astaqdiruka ( وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ) artinya aku meminta kepada-Mu dengan qudrat-Mu (kekuasaan-Mu) yang sempurna.

Agar Engkau memberi kekuatan kepadaku untuk memudahkan urusanku, untuk memudahkan kebaikan itu kepadaku. Sesungguhnya, tidak ada daya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan-Mu.

3. Wa’asaluka min fadhika

Wa’asaluka min fadhika ( وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ) artinya aku meminta dari karunia-Mu yang besar. Maksud dari karunia adalah penentuan kebaikan perkara tersebut, kejelasannya, pemberian kekuatan, dan kemudahan untuk meraih kebaikan itu.

Hal ini memberi isyarat bahwa pemberian dari Allah adalah murni karunia dan anugerah dari-Nya. Tidak ada seorang hamba pun yang berhak atas nikmat-nikmat-Nya, karena segala apa yang telah diusahakan oleh hamba adalah atas karunia dan nikmat-Nya.

4. Fa’innaka taqdiru walaa aqdiru

Fa’innaka taqdiru walaa aqdiru ( فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ) artinya bahwa kesempurnaan kekuasaan itu hanya milik-Mu. Segala apa pun yang berlaku dan berjalan pada diriku adalah atas kekuasaan, kehendak, dan ketetapan-Mu.

Sedangkan aku adalah makhluk lemah yang tak memiliki kekuatan dan kekuasaan apa pun. Aku tidak mampu melakukan sesuatu, kecuali dengan daya kekuatan dan kekuasaan-Mu.

Sesungguhnya, Engkau telah lebih berkuasa sebelum Engkau menciptakan kekuasaan itu pada diriku. Ketika Engkau memberikan kekuasaan itu, dan setelah Engkau mengaruniakan kekuasaan itu untukku.

5. Wata’lamu walaa ‘alamu

Wata’lamu walaa ‘alamu ( وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ) artinya bahwa hakikat ilmu itu hanyalah milik-Mu. Segala apa pun yang berlaku dan berjalan pada diriku adalah atas ilmu dan kesempurnaan pengetahuan-Mu.

Aku tidak mampu mengetahui sesuatu, kecuali dengan karunia ilmu-Mu. Engkau telah lebih mengetahui sebelum Engkau menciptakan ilmu itu pada diriku, dan setelah Engkau menciptakannya.

6. Wa anta ‘allaamul ghuyuub

Wa anta ‘allaamul ghuyuub ( وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ) artinya Engkaulah Dzat Yang Maha Mengetahui segala hal yang gaib, yang tersembunyi, dan yang rahasia.

Engkau Yang Maha Mengetahui setiap urusan makhluk-Nya dalam segala segi, kebaikan dan keburukannya, kemudahannya dan kesulitannya, dunianya dan akhiratnya, dan lainnya.

Kalimat ini adalah penyempurnaan dan pengukuhan terhadap apa yang sebelumnya, yakni bahwa Engkaulah yang benar-benar mengetahui segala sesuatunya.

7. Allaahumma in kunta ta’lamu hadzal amra khairun lii fii diini

Allaahumma in kunta ta’lamu hadzal amra khairun lii fii diini ( اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ (…)  خَيْرٌ لِى فِى دِينِى ) artinya jika memang perkara yang aku kehendaki ini (disebutkan perkaranya dengan lisan atau di dalam hati) menurut ilmu-Mu baik untukku dalam agamaku

Kebaikan dalam agama berarti perkara itu sanggup mendatangkan kemaslahatan dalam ibadah ketaatan kepada Allah dan tidak mengundang musibah dosa dan kemurkaan Allah.

Kalimat. “allahumma inkunta ta’lamu….”(ya Allah, jika Engkau mengetahui) sepintas mungkin agak membingungkan, karena terkesan meragukan ke-Mahatahuan Allah.

Namun, makna yang dikehendaki di sini adalahat-tafwidh (penyerahan diri kepada Allah Swt). Rela dengan pengetahuan-Nya terhada perkara yang kita mintakan petunjuk kepada-Nya.

8. Wama’aasyi

Wama’aasyi ( وَمَعَاشِى ) artinya perkara itu baik pula untuk kehidupan duniaku. Kebaikan dunia berarti sesuatu yang membawa keberuntungan dan kesenangan dunia berupa bermacam-macam rejeki.

9. Wa’aaqibatu amrii

Wa’aaqibatu amrii ( وَعَاقِبَةِ أَمْرِى ) artinya perkara itu baik pula untuk akhir dari perkaraku. Akhir dari perkara berarti menyangkut masa depan yang dekat dan yang jauh.

Masa depan yang dekat berarti kehidupan mendatang yang akan dilalui. Sedangkan masa depan yang jauh berarti kehidupan di akhirat.

Kebaikan akhir dan perkara adalah perkara itu menghasilkan rahmat dan kenikmatan di masa depan, baik di dunia maupun di akhirat.

10. Faqdurhu lii wayassirhu

Faqdurhu lii wayassirhu ( فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ ) artinya jika perkara ini memang baik dalam kesemuanya itu, maka tetapkanlah ia untukku, siapkanlah ia untukku, dan mudahkanlah ia bagiku.

11. Tsumma baarik lii fiihi

Tsumma baarik lii fiihi ( ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ) artinya kemudian perbanyaklah kebaikan dan keberkahan dalam apa yang Engkau takdirkan dan mudahkan untukku itu.

12. Allaahumma wainkunta ta’lamu anna hadzal amra syarrun lii fii diinii

Allaahumma wainkunta ta’lamu anna hadzal amra syarrun lii fii diinii ( وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى ) artinya jika perkara yang aku hendaki ini (disebutkan perkaranya dengan lisan atau di dalam hati) menurut ilmu-Mu buruk untukku dalam agamaku.

Keburukan dalam agama berarti perkara itu bisa mendatangkan kemudharatan dan kerugian dalam ibadah ketaatan kepada Allah dan bisa mengundang dosa serta siksaan-Nya.

13. Wama’aasyi

Wama’aasyi ( وَمَعَاشِى ) artinya perkara itu buruk pula untuk kehidupan duniaku. Keburukan/kejelekkan dunia berarti sesuatu yang membawa kerugian dan kesengsaraan hidup di dunia dari segala hal yang dibenci dan dihindari.

14. Wa’aaqibatu amrii

Wa’aaqibatu amrii ( وَعَاقِبَةِ أَمْرِى ) artinya perkara itu buruk pula untuk akhir dari perkaraku. Keburukan akhir perkara adalah perkara itu mengakibatkan kemurkaan Allah Swt. dan siksaan-Nya di masa depan di dunia maiupun di akhirat.

15. Washrifhu ‘annii Fashrifnii

Washrifhu ‘annii Fashrifnii ( فَاصْرِفْهُ عَنِّىْ وَاصْرِفْنِيْ ) artinya hindarkanlah ia (perkara itu) jauh-jauh dariku dengan ketidakmampuanku untuk memperolehnya, kesulitanku untuk meraihnya, dan hilangnya hasratku untuk mencarinya.

16. Waqdur lii al-khaira khaitsu kaana tsumma radhdhiniibihi

Waqdur lii al-khaira khaitsu kaana tsumma radhdhiniibihi ( وَاقْدُرْهُ لِيَ الْخَيْرَحَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِىْ بِهِ ) artinya takdirkanlah untukku kebaikan beserta kemudahannya, dimana pun dan kapan pun kebaikan itu ada. Lalu, berilah aku keridhaan dalam kebaikan tersebut.


Demikian ulasan tentang shalat istikharahniat shalat istikharahtata cara shalat istikharahdoa shalat istikharahdan makna doa sholat istikharah lengkap. Silahkan melaksanakan shalat istikharah untuk menentukan pilihan yang sulit agar Allah yang menentukan pilihan untuk kita semua, Aamiin....


Penulis : 

M Aulia Hafidz Al-Majied, Lc.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulumul Qur'an • Kaidah Penulisan Hamzah (Kaidah Imla dan Rasm)

Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM) Kaidah Penulisan Hamzah (Kaidah Imla dan Rasm) Cara menulis hamzah di awal, di tengah, dan di akhir Berbeda dengan huruf hijaiyah lainnya, hamzah mempunyai kaidah tersediri dalam penulisannya. Hamzah bisa ditulis dalam bentuk alif, ya’, wau, atau mandiri (seperti kepala ain). Di bawah ini akan dijelaskan cara penulisan hamzah dalam kaidah imla’ dan juga rasm utsmani. Penulisan Hamzah 1. Hamzah di awal kata Ketika hamzah berada di awal kata, maka di tulis dalam bentuk alif, baik hamzah qatha maupun hamzah washal. Perbedaanya kalau menulis hamzah qatha harus ada kepala hamzahnya (ء) di atas alif ketika berharakat fathah dan dhammah serta berada di bawah alif ketika berharakat kasrah. Sedangkan menulis hamzah washal berbentuk alif saja tanpa ada kepada hamzah. Contoh hamzah qatha: أَنْعَمْتَ – أُنَاسٌ - إِكْرَامٌ Contoh hamzah washal: اَلْأَنْهَارُ - اِبْنٌ - اُنْصُرْ === Perbedaan hamzah qatha dan hamzah washal === 2. Hamzah di tengah Hamza...

Enam (6) Kaidah Rasm Utsmani (Kaidah Penulisan Al-Qur'an)

Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM) Kaidah Rasm Utsmani | Khath Utsmani | Rasmul Qur'an Rasm bisa diartikan atsar (bekas), khat (tulisan) atau metode penulisan. Rasm Utsmani atau disebut juga Rasmul Qur’an adalah tata cara penulisan Al-Qur’an yang ditetapkan pada masa khlalifah Utsman bin Affan. Istilah Rasmul Qur’an diartikan sebagai pola penulisan al-Qur’an yang digunakan Ustman bin Affan dan sahabat-sahabatnya ketika menulis dan membukukan Al-Qur’an. Yaitu mushaf yang ditulis oleh panitia empat yang terdiri dari Mus bin zubair, Said bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-harits. Mushaf Utsman ditulis dengan kaidah tertentu. Menulis Kaligrafi Al-Qur'an Kaidah rasm utsmani ada 6: 1. Hadzf (الْحَذْف) Hadzf artinya membuang. Nah dalam penulisan Al-Qur’an ada beberapa huruf yang dibuang. Huruf yang dibuang diantaranya alif, wau, ya’, lam dan nun. Contoh wau yang dibuang: اَلْغَاونَ (اَلْغَاوُوْنَ) Contoh ya’ yang dibuang: وَلِيَ دِيْنِ (دِيْنِيْ) Contoh lam yang dibuang: ...

Imam Al-Ghazali: Sang Hujjatul Islam

Imam Al-Ghazali: Sang Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali, yang terkenal dengan Hujjatul Islam (argumentator Islam) karena jasanya yang besar di dalam menjaga Islam dari pengaruh ajaran bid’ah dan aliran rasionalisme Yunani. Beliau lahir pada tahun 450 H, bertepatan dengan 1059 M di Ghazalah, suatu kota kecil yang terlelak di Thus wilayah Khurasan yang waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam. Para Ulama nasab berselisih pendapat dalam penyandaran nama Imam Ghazali ra, sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thus tempat kelahiran beliau ini dikuatkan oleh Al-Fayumi dalam Mishbahul Munir, penisbatan ini kepada salah seorang keturunan Imam Ghazali yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhammad bin Abi Thohir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah, anaknya Sitti Al-Mana Binti Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali yang mengatakan: “...