Langsung ke konten utama

MENAMBAHKAN DOA DI SUJUD TERAKHIR

MENAMBAHKAN DOA DI SUJUD TERAKHIR


Sujud memang memiliki kedudukan yang agung dalam syariat agama ini. Sebagaimana sebuah hadits menyebutkan :

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain :

أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ 

“Sesungguhnya aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an ketika ruku’ dan sujud, adapun ketika ruku’, agungkan kamulah Rabb dan adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab saat itu sangat tepat untuk dikabulkan”. (HR. Muslim)

Dan perilaku saudara kita tersebut tentu sebuah anugarah yang indah dariNya, bisa merasakan kenikmatan dalam sujud. Dimana hari ini sudah banyak dicabut dari kebanyakan orang, mereka tergesa-gesa dalam shalat sehingga ruku’ dan sujudnya pun seperti burung yang mematuk.

Menambahkan doa dalam sujud

Berdasarkan dalil hadits diatas, mayoritas ulama dari kalangan Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat boleh menambahkan doa dan bacaan tasbih di dalam sujud dalam semua shalat.[1] Berikut rinciannya :

Hanafiyyah

Kalangan Hanafiyyah berpendapat bahwa boleh menambah doa-doa yang ma’tsur (dari ayat atau hadits) di dalam shalat sunnah, tapi tidak boleh dalam shalat wajib. Hal ini karena kalangan al Ahnaf memaknai hadits perintah memperbanyak do’a di dalam sujud adalah dalam konteks shalat sunnah.[2]

Malikiyyah

Boleh menambahkan doa setelah bacaan tasbih di dalam sujud , baik shalat sunnah maupun wajib.[3]

Syafi’iyyah

Sebagaimana pendapat Malikiyyah, dalam mazhab ini dibolehkan seseorang menambahkan do’a –doa di dalam sujud semua jenis shalat. Hanya dalam mazhab ini diberikan keterangan afdhalnya ketika shalat sendiri dan jika menjadi imam tidak menyebabkan panjangnya shalat.[4]

Berkata al Imam Al-Nawawi : “Doa-doa dalam sujud tersebut adalah mutlak dan tidaklah dibatasi. Doa apa saja yang termasuk maksud doa adalah boleh. Sebab Rasulullahshalallahu’alaihi wassalam melakukan berbagai doa yang berbeda dan berbagai tema. Ini menunjukkan bahwa hal itu tidak dilarang. Dalam Shahihain dari Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi bersabda :

ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَلْيَدْعُ بِه

“Kemudian hendaknya dia memilih doa yang disukai dan sesuai seleranya.” Dalam riwayat Imam Muslim, sebagaimana menjelasan bab yang lalu, dari Abu Hurairah: “kemudian dia berdoa untuk apa-apa yang nyata untuk dirinya.”[5]

Hanabilah

Ulama dalam mazhab ini kelihatannya tidak kompak dalam permasalahan ini. Sebagian mereka berpendapat sebagaimana kalangan Hanafiyyah, sedangkan jumhur mazhab ini mengatakan boleh menambah bacaan doa di dalam shalat fardhu juga. Bahkan dengan doa-doa lain selain yang bersumber dari al Qur’an dan hadits.[6]

Bagaimana bentuk doanya ?

Yang afdhal dalam sujud adalah menambah dengan doa-doa yang ma’tsur dari al Qur’an dan hadits, atau doa-doa sujud yang disebutkan dalam as sunnah secara khusus seperti :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

Maha Suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, ampunilah Aku. (HR. Bukhari)

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِعَفْوِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Ya Allah, ampunilah diriku dari dosaku semuanya, yang detail atau yang besar, yang awal dan yang akhir, yang terlihat ataupun yang tidak terlihat. Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu dan Aku berlindung dengan-Mu dari-Mu. Tidak terhitung pujian bagi-Mu Engkau sebagaimana pujian-Mu atas diri-Mu. (HR. Muslim)

اللَّهُمَّ أَعِنيِّ عَلىَ شُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah, tolonglah aku untuk bersyukur dan beribadah dengan baik kepada-Mu." (Sunan Ibnu Manshur)

 Boleh juga dengan doa-doa apapun yang berisi kebaikan asalkan dengan menggunakan bahasa Arab. Jika bukan dengan doa yang berbahasa Arab hendaknya dibaca di dalam hati, karena jika dilafadzkan akan menyebakan batalnya shalat. Berkata al Muhyiddin an Nawawi rahimahullah :

ولا يجوز ان يخترع دعوة غير مأثورة ويأتى بها العجمية بلا خلاف وتبطل بها الصلاة

“Dan tidak boleh membuat doa-doa yang tidak diajarkan Nabi dengan mengungkapnnya dengan bahasa ‘ajam (selain bahasa arab) berdasarkan kesepakatan ulama dan shalatnya menjadi batal.[7]

Kesimpulan

1.     Boleh bahkan dianjurkan berdo’a di dalam sujud diluar bacaan tasbih menurut mayoritas ulama.

2.    Yang Afdhal adalah doa sujud yang diajarkan Rasulullah shalallahu’alaihi wasslam atau doa-doa dalam al Qur’an dan hadits.

3.  Boleh membaca doa yang digubah sendiri dalam bahasa Arab, namun jika dalam bahasa selain Arab haram dan batal shalatnya.

Wallahu a’lam.

[1] Fiqh al Islami wa Adillatuhu (2/896), Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (39/227).

[2] Dar al Mukhtar (1/472).

[3] Jawahirul Iklil (1/51).

[4] Hasyiyah al Qulyubi (1/173)

[5] Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab (3/471).

[6] Al Mughni (1/522).

[7] Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab (3/471).



MACAM-MACAM BACAAN SUJUD

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

    #SifatSholatNabi
    #DoaZikir

    MACAM-MACAM BACAAN SUJUD

    Ada beberapa doa dan bacaan yang diajarkan Nabi ﷺ ketika sujud. Sikap yang tepat adalah mengamalkannya secara bergantian. Misalnya pada saat shalat Subuh kita membaca doa sujud #1, ketika shalat Zuhur membaca doa sujud #2 dan seterusnya, sehingga semua Sunnah Nabi ﷺ kita amalkan dan ajaran beliau ﷺ menjadi lestari.

    Berikut beberapa doa sujud yang sesuai Sunnah:

    Bacaan Sujud # 1

    سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى

    Subhaana robbiyal a’laa (tiga kali)

    Artinya:

    Maha Suci Robb-ku yang Maha Tinggi

    Beliau ﷺ pernah membaca doa ini berulang-ulang ketika sujud shalat malam, sehingga sujud beliau hampir sama lamanya dengan berdiri beliau.

    Bacaan Sujud # 2

    سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

    Subhaana robbiyal a’laa wa bihamdih. (tiga kali)

    Artinya:

    Maha Suci Robb-ku Yang Maha Tinggi, dan memujilah aku kepada-Nya.

    Bacaan Sujud # 3

    سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ، رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ

    Subbuuhun qudduusun robbul malaa-ikati war ruuh.

    Artinya:

    Maha Suci, Maha Qudus (Maha Mulia), Rabbnya Para Malaikat dan Ruh [HR. Muslim no. 487].

    Yang dimaksud Ruuh dalam doa ini adalah Malaikat Jibril. Lafal Rabbnya Para Malaikat dan Ruh”, di dalamnya terdapat penyebutan Rububiyah Allah ta’ala terhadap para malaikat secara umum. Kemudian disebutkan secara spesifik, Malaikat Jibril ‘alaihis salam Ruhul Amiin, karena dia adalah malaikat yang paling utama dan penghulu mereka. Jibril ‘alaihis salam disebut Ruuh karena dia turun membawa wahyu yang merupakan kehidupan hati.

    Bacaan Sujud # 4

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

    Subhaa-nakallahumma robbanaa wa bihamdika, allahummaghfir-lii.

    Artinya:

    Maha Suci Engkau Ya Allah, Wahai Rabb kami, dan dengan memuji-Mu, Ya Allah, berilah ampunan untukku.

     

    Nabi ﷺ banyak membaca doa ini dalam rukuk dan sujudnya, setelah turun surat An-Nashr. Beliau lakukan demikian dalam rangka mengamalkan perintah di akhir surat An-Nashr. [HR. Bukhari]

    Bacaan Sujud # 5

    اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجُلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّه

    Allahummagh-fir-lii dzan-bii kullahuu, diqqahuu, wa jullahuu, wa awwa-lahuu, wa aa-khirohuu, wa ‘alaa-niya-tahuu wa sirrohuu.

    Artinya:

    Ya Allah, ampunilah seluruh dosaku, yang sekecil-kecilnya dan yang sebesar-besarnya, yang pertama dan yang terakhir, yang terang-terangan dan yang tersembunyi.

    Bacaan Sujud # 6

    اللهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ، وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

    Allahumma laka sajad-tu, wa bika aamantu, wa laka aslam-tu. Sajada wajhii lilladzii khala-qohuu, wa shawwa-rohuu, wa syaqqo sam’ahuu wa basharahuu, tabaarokallahu ahsanul kholiqiin.

    Artinya:

    Ya Allah, kepada-Mu-lah aku bersujud, kepada-Muaku beriman dan kepada-Mu-lah aku menyerahkan diriku. Dan Engkaulah Robb-ku. Wajahku bersujud kepada Dzat yang telah menciptakan dan membentuknya, maka baikkanlah bentuknya. Dan Yang telah menjadikan diriku mendengar dan melihat. Maka Maha Suci Allah, sebaik-baiknya pencipta.

    Bacaan Sujud # 7

    سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

    Subhaana dzil jabaruut, wal malakuut, walkibriyaa, wal ‘adzamah.

     

    Artinya:

    Maha Suci Pemilik Keperkasaan, dan Kekuasaan, dan Keangkuhan, dan Keagungan.

    Kata ‘Jabaru” dan ‘Malakut’ mencakup makna-makna nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala dan sifat-sifat-Nya yang ditunjukkan oleh makna ‘Al Malikul Jabbar’ (Raja Maha Perkasa) [Lihat Ar-Radd Alal Manthiqiyyin, karya Ibnu Taimiyah, hal 196].

    Doa sujud ini pernah beliau ﷺ baca ketika shalat malam. Beliau ﷺ mengulang-ulang lama sekali. Karena ketika berdiri, beliau ﷺ membaca surat Al-Baqarah.

    Ada juga beberapa doa sujud yang khusus dibaca ketika shalat malam. Berikut di antaranya:

    Bacaan Sujud Malam #1:

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

    Subhaanaka allahumma wa bihamdika laa ilaaha illa anta.

    Artinya:
    Maha Suci Engkau ya Allah, dan aku memuji-Mu. Tidak ada Robb selain Engkau.

    Bacaan Sujud Malam #2

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ

    Allahummagh-firlii maa asrar-tu wa maa a’lantu.

    Artinya:
    Ya Allah, ampunilah aku dari apa- apa yang aku sembunyikan dan yang aku nyatakan.

    Bacaan Sujud Malam #3

    اللهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

    Allahumma innii a-‘uudzu bi ridhaa-ka min sakhatik, wa bi mu’aafatika min ‘uquubatik, wa a-‘uudzu bika min-ka, laa uh-shii tsa-naa-an ‘alaika anta, kamaa ats-naita ‘alaa nafsik.

    Artinya:
    “Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, aku berlindung dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak bisa menyebut semua pujian untuk-Mu, sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.”

    Berdasarkan keterangan A’isyah, doa ini dibaca Nabi ﷺ ketika beliau ﷺ sujud pada saat shalat malam



    Komentar

    Postingan populer dari blog ini

    Ulumul Qur'an • Kaidah Penulisan Hamzah (Kaidah Imla dan Rasm)

    Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM) Kaidah Penulisan Hamzah (Kaidah Imla dan Rasm) Cara menulis hamzah di awal, di tengah, dan di akhir Berbeda dengan huruf hijaiyah lainnya, hamzah mempunyai kaidah tersediri dalam penulisannya. Hamzah bisa ditulis dalam bentuk alif, ya’, wau, atau mandiri (seperti kepala ain). Di bawah ini akan dijelaskan cara penulisan hamzah dalam kaidah imla’ dan juga rasm utsmani. Penulisan Hamzah 1. Hamzah di awal kata Ketika hamzah berada di awal kata, maka di tulis dalam bentuk alif, baik hamzah qatha maupun hamzah washal. Perbedaanya kalau menulis hamzah qatha harus ada kepala hamzahnya (ء) di atas alif ketika berharakat fathah dan dhammah serta berada di bawah alif ketika berharakat kasrah. Sedangkan menulis hamzah washal berbentuk alif saja tanpa ada kepada hamzah. Contoh hamzah qatha: أَنْعَمْتَ – أُنَاسٌ - إِكْرَامٌ Contoh hamzah washal: اَلْأَنْهَارُ - اِبْنٌ - اُنْصُرْ === Perbedaan hamzah qatha dan hamzah washal === 2. Hamzah di tengah Hamza...

    Enam (6) Kaidah Rasm Utsmani (Kaidah Penulisan Al-Qur'an)

    Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM) Kaidah Rasm Utsmani | Khath Utsmani | Rasmul Qur'an Rasm bisa diartikan atsar (bekas), khat (tulisan) atau metode penulisan. Rasm Utsmani atau disebut juga Rasmul Qur’an adalah tata cara penulisan Al-Qur’an yang ditetapkan pada masa khlalifah Utsman bin Affan. Istilah Rasmul Qur’an diartikan sebagai pola penulisan al-Qur’an yang digunakan Ustman bin Affan dan sahabat-sahabatnya ketika menulis dan membukukan Al-Qur’an. Yaitu mushaf yang ditulis oleh panitia empat yang terdiri dari Mus bin zubair, Said bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-harits. Mushaf Utsman ditulis dengan kaidah tertentu. Menulis Kaligrafi Al-Qur'an Kaidah rasm utsmani ada 6: 1. Hadzf (الْحَذْف) Hadzf artinya membuang. Nah dalam penulisan Al-Qur’an ada beberapa huruf yang dibuang. Huruf yang dibuang diantaranya alif, wau, ya’, lam dan nun. Contoh wau yang dibuang: اَلْغَاونَ (اَلْغَاوُوْنَ) Contoh ya’ yang dibuang: وَلِيَ دِيْنِ (دِيْنِيْ) Contoh lam yang dibuang: ...

    Imam Al-Ghazali: Sang Hujjatul Islam

    Imam Al-Ghazali: Sang Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali, yang terkenal dengan Hujjatul Islam (argumentator Islam) karena jasanya yang besar di dalam menjaga Islam dari pengaruh ajaran bid’ah dan aliran rasionalisme Yunani. Beliau lahir pada tahun 450 H, bertepatan dengan 1059 M di Ghazalah, suatu kota kecil yang terlelak di Thus wilayah Khurasan yang waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam. Para Ulama nasab berselisih pendapat dalam penyandaran nama Imam Ghazali ra, sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thus tempat kelahiran beliau ini dikuatkan oleh Al-Fayumi dalam Mishbahul Munir, penisbatan ini kepada salah seorang keturunan Imam Ghazali yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhammad bin Abi Thohir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah, anaknya Sitti Al-Mana Binti Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali yang mengatakan: “...