Langsung ke konten utama

Kitab Hilyatul Auliya_حلية الٱوليآء

RESENSI SINGKAT KITAB HILYATUL AULIYA, SEJARAH BIOGRAFI ULAMA SALAF

I. MUQODDIMAH
Sejarah pembukuan As-Sunnah memiliki nilai sangat penting dalam kajian sumber-sumber Syari’at Islam, peristiwa ini ada keterkaitan antara tidak hanya sebagai bukti warisan peninggalan dalam sejarah Islam, dengan alasan bahwa prinsip-prinsip periwayatan hadith oleh para perawi setidaknya diketahui melalui peristiwa aktivitas Pembukuan atau Pelembagaan as-Sunnah. Momentum gerakan Pembukuan al-Sunnah memunculkan petunjuk model pengajaran Syari’at Islam secara kultural, dan memberi penentu tentang periodisasi perjalanan format sumber Syari’at Islam.

Sehingga dari aspek Syari’ah bahwa Pelembagaan dan Pembukuan al-Sunnah ada keterkaitan dengan penentuan nilai-nilai otentifikasi sumber-sumber Syari’at Islam, setidaknya ada tujuh fase periode dan masing-masing memiliki format unsur karakter sekaligus nilai penting dalam penetapan kedudukan al-Sunnah, sama ada itu Sunah Qauliah, Fi’liah, ataupun Taqririah bahkan Qauliyah dan Atsar Shahabat.

Melalui pelembagaan dan pembukuan menjadikan tumbuhnya aktivitas keilmuan, terutama di bidang hadith (Ulum al-Hadith) di samping mendorong timbulnya lembaga Ijtihad dari generasi ke genarasi berikutnya.

Maka dalam kesempatan kali ini penulis mencoba untuk mengkaji sesebuah khazanah hadith peninggalan ulama terkenal abad ketiga hijriyah, beliau adalah Abu Nu`aim al-Ashfahani dan karyanya yang terkenal Hilyat al-Auliya wa Thabaqat al-Asfiya. Merupakan sebuah karya besar yang terdiri dari delapan jilid tentang kumpulan hadith-hadith Rasulullah ﷺ dan dilengkapi dengan silsilah sanad yang panjang sampai kepada Rasul ﷺ yang mengumpulkan para tokoh Sahabat Nabi, Tabi`in, Tabiut Tabi`in dan para tokoh ahli ulama tasawwuf dan ibadat.

Maka dalam upaya untuk mencapai objektif kajian seperti yang diharapkan, penulis akan merujuk kepada buku-buku yang telah ditulis oleh para pengkaji sebelum penulis, sama ada yang berkaitan mengenai biografi Abu Nu`aim itu sendiri maupun telaah kepada karyanya Hilyat al-AULIYA maupun artikel yang membahas tentang beliau.

*II. BIOGRAFI SINGKAT & KARYA-KARYANYA*

Abu Nu’aim al Ashbahaaniy, nama Ashbahan yang menjadi nisbat pada namanya, merupakan sebuah kota yang sampai sekarang masih ada, terletak di Negara Iran. Kadang, dikenal juga dengan sebutan Ashfahan.

Abu Nu’aim sendiri memiliki nama, Ahmad bin ‘Abdullah bin Ahmad bin Ishaq bin Musa bin Mihran.
Dia dilahirkan pada bulan Rajab 330 H.
Ada juga yang berpendapat, ia lahir tahun 334 H. Dan beliau meninggal pada 20 Muharram 430 H dalam usia 94 tahun.
Demikian berdasarkan paparan para ulama yang menuliskan biografinya. Usia beliau banyak dihabiskan dengan belajar, mengajar dan menulis.

Imam Abu Nu’aim menceritakan bahwa Mihran, ialah kakek moyangnya yang pertama kali masuk Islam. Dia sebagai maula ‘Abdullah bin Mu’awiyah bin ‘Abdillah bin Ja’far bin Abi Thalib.

Sejak usia masih belia, Abu Nu’aim telah mengarungi dunia thalabul ‘ilmi, lantaran perhatian besar sang ayah kepadanya.
Maka berkat kemampuan ilmiahnya, tak ayal, gelar imam, ats tsiqah, ‘allamah serta Syaikhul Islam telah tersemat padanya.

Sampai-sampai adz Dzahabi menyatakan,”Tokoh-tokoh ilmu dunia telah memberikan ijazah baginya pada tahun 340-an H, padahal usianya baru 6 tahun.”

Dia mendapatkan ijazah (rekomendasi untuk meriwayatkan) dari banyak ulama, tanpa ada orang lain yang menyamainya.
Abu Muhammad bin Faris, adalah orang pertama yang memberikannya.

Beliau tidak hanya piawai dalam disiplin ilmu hadits. Dalam medan qira`ah pun, kemampuannya terakui. Beliau telah meriwayatkan banyak qira`ah langsung melalui ath Thabrani. Abul Qasim al Hudzali mengambil ilmu qira`ah darinya.

Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Ibnul Jazari menulis biografi Abu Nu’aim dalam karyanya, Ghayatun Nihayah fi Thabaqatil Qurra`.

Ilmu fiqih juga termasuk bidang yang beliau kuasai. Sehingga Abu Nu’aim terkenal sebagai ahli fiqih dalam madzhab Syafi’i. Karenanya, as Subki, al Isnawi dan Ibnu Hidayatullah memasukkannya dalam Thabaqat asy Syafi’iyyah.

Guru Abu Nu`aim al-Asfahani di Asfahan
Sejak dari kecil beliau telah diasuh oleh bapanya sendiri `Abdullah bin Ahmad yang juga merupakan seorang ulama yang terkenal sehingga Abu Nu`aim banyak meriwayatkan hadith darinya, kunniyahnya Abu Muhammad (231-365H), beliau juga meriwayatkan daripada Abi Khalifah, `Abdan, `Abdullah bin Najiyah, al-Jundy, Ishaq al-Khaza`I, Ibrahim bin Matuyah, Muhammad bin Yahya bin Mundah sekalipun diantaranya terjadi perselisihan pendapat, sama ada kerana dilatar belakangi oleh perbedaan dan ta`assub mazhabiyah maupun sifat emosional pribadi manusia sehingga menyebabkan perbedaan pendapat, dan Ibn Rustah, yang mana beliau pada saat itu belum meranjak umurnya lebih dari enam tahun.

Kemudian selepas itu setelah beliau berumur delapan tahun sebagaimana yang diceritakan oleh al-Subki didalam Tabaqat al-Syafi`iyah maka beliau baru berguru kepada para syuyukh yang sangat masyhur dalam keilmuannya, sama ada di tempat kelahirannya mahupun di tempat lain dimana Abu Nu`aim telah belajar,
diantaranya adalah:

· Abdullah bin Ja'far bin Ahmad bin Faris bin al-Farj (w 248-346H)
· Al-Qazi Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim al-'Asal (w 374H)
· Ahmad bin Ja' far bin Ahmad bin Ma'bad Abu Ja'far al-Samsar (w 346H)
· Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Ja'far al-Qasshar (w 399H)
· Dan lain-lain.

Kemudian selepas beliau menimba ilmu di Ashfahan sekitar dua puluh tahun, lalu beliau berangkat pergi ke Iraq tepatnya pada tahun 356 H dan belajar dengan para ulama disana.

· Guru Beliau di Iraq
Diantara guru Abu Nu 'aim al-Asfahani di Iraq adalah Abi Bahr al-Balbahari Muhammad bin al-Hasan bin Kautsar (266 – 362), Abu' Ali Isa bin Muhammad bin Ahmad bin Umar al-Thumari (262 – 360H), Abu Thahir al-Hafiz al-Baghdadi al-Zahabi Abdurrahman bin Abbas bin Abdurrahman bin Zakaria (w393H), Habib bin al-Hasan bin Daud bin Muhammad Abu al-Qasim al-Qazzaz (w359H) dan lainnya.

Kemudian selepas itu beliau berangkat menuju tanah haram Makkah al-Mukarramah dan berjumpa dengan para ulama Makkah.

· Guru Abu Nu'aim di Makkah:

Diantara guru beliau di Makkah adalah: Abu Bakr bin Muhammad bin al-Husain bin Abdullah al-Ajiri (w360H). Kemudian beliau menuju Basrah dan berjumpa dengan ulama disana.

· Guru Abu Nu'aim di Basrah
Diantaranya: Faruq bin Abd al-Karim al-Khattabi dan Muhammad bin Muslim al-Amiri. Lalu beliau menuju ke Kufah dan berjumpa disana dengan para ulama terkemuka.

· Guru Abu Nu'aim al-Asfahani di Kuffah
Diantara guru beliau di Kuffah adalah: Abi Bakr Abdullah bin Yahya al-Thalha. Selepas itu beliau menuju Naisaburi dan berjumpa dengan para ulama disana.

· Guru Abu Nu'aim al-Asfahani di Naisaburi
Diantara guru beliau di Naisaburi adalah: Muhammad bin Abdillah al-Hakim al-Naisaburi(Ibn al-Bay) (w405H).

Kemudian selepas itu beliau kembali ke kampung halamannya tempat kelahiran beliau “Ashbahan” setelah beliau berkeliling dunia dalam menuntut ilmu, beliau habiskan umurnya sekitar 14 tahun di luar tempat asalnya demi mencari ilmu, beliau mulai dari tahun 356 sampai tahun 370 H.

Setibanya dikampung halaman beliau mengabdikan dirinya untuk mengajarkan ilmu yang telah beliau pelajarinya lebih kurang sekitar 30/ 36 tahun, sampai beliau dipanggil kehadhirat Allah ta'ala pada tahun 430H.

Adapun Mazhab beliau dalam fiqh adalah mazhab al-Imam Asy-Syafi'i.

Dan diantara murid beliau yang paling terkenal ialah al-Imam al-Hafiz al-Khatib al-baghdadi.

Karya- karya beliau di antaranya:

• Hilyat al-auliya ',yang terdiri dari total 650 biografi, berjumlah sekitar 4.000 halaman dalam edisi cetak. Karya tersebut memuat banyak biografi tentang Islam awal. Sebagian besar biografi individu yang terlibat langsung dengan pengembangan mistisisme sufi.
• Al-Arba' in ala Madhhab al-Mutahaqqiqin min al-Sufiyya,
• Dala'il al-Nubuwwa (Tanda-Tanda dan Bukti Kenabian), yang sepenuhnya dikhususkan untuk pribadi Nabi Muhammad ﷺ, karya besar ini - sebagian dicetak - diperluas oleh al-Bayhaqi hingga tujuh jilid dalam sebuah karya yang berjudul seperti .
• Dhikr Akhbar Asbahan (Memorial of Chronicles of Ispahan), 
• Al-Du'afa'
• Fada'il al-Khulafa 'al-Arba' a wa Ghayrihim, 
• Fadilat al-Adilin min al-Wulat, kumpulan lebih dari empat puluh narasi tentang pemerintahan yang adil dan tugas-tugas yang diperintah terhadap para penguasa. Al-Sakhawi mendokumentasikan setiap narasi secara terperinci dan karya serta dokumentasinya diterbitkan.
• Juz fi Turuq Hadith Inna Lillahi Tis'atun wa Tis'ina Isman, 
• Al-Mahdi.
• Ma'rifat al-Sahaba wa Fada'ilihim (Mengetahui Para Sahabat dan Kelebihan Mereka), dicetak. Buku ini adalah dasar dari karya-karya serupa selanjutnya oleh Ibn Abd al-Barr, Ibn al-Athir, dan Ibn Hajar.
• Musnad al-Imam Abi Hanifa,
• Al-Mustakhraj ala al-Bukhari
• Al-Mustakhraj ala Muslim
• Riyadat al-Abdan,
• Al-Shuara
• Al-Sifat.
Al-Suyuti menyebutkannya dalam komentarnya tentang Sûrat al-Nas dalam bukunya al-Iklîl untuk Istinbat al-Tanzil.
• Sifat al-Janna, 
• Tabaqat al-Muhaddithîn wal-Ruwat /Lapisan-Biografi Cendekiawan dan Narator Hadits. 
• Tasmiyatu ma Intaha ilayna min al-Ruwat 'an al-Fadl ibn Dukayn' Aliyan,
• Tasmiyatu ma Intaha ilayna min al-Ruwat an Sa'id ibn Mansur Aliyan,
• Tathbit al-Imama wa Tartib al-Khilafa, dalam bentuk cetakan, merupakan penyangkalan terhadap Syiisme.
• Al-Tibb al-Nabawi (Obat-Obatan Nabi).

*III. METODE PENULISAN & ISI*

Buku ini terbilang klasik, karena semua kisah dan biografi ulama Salaf disini diceritakan menggunakan hadits dan atsar lengkap, sehingga valliditas dan keontetikan ceritanya pun bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiyah lewat studi hadits dan atsar. Oleh karena itu buku ini menjadi referensi utama dalam disiplin ilmu Sejarah.

Diantara karya Abu Nu`aim yang paling terkenal adalah kitab “ Hilyat al-Auliya Watabaqat al-Asfiya”.

Dalam penulisan buku ini Abu Nu`aim al-Ashfahani pertama sekali memulai mengupas dalam muqaddimah bukunya itu tentang kemuliaan dan kelebihan para aulia Allah di sisi-Nya, sama ada di dunia maupun diakhirat, lalu Beliau memaparkan lebih jauh lagi tentang ganjaran bagi orang-orang yang menentang para Aulia Allah, apalagi sampai ia mengejeknya maka seolah-olah ia telah mengangkat bendera perang terhadap Allah ta’ala, yang semuanya itu telah beliau jelaskan sendiri didalam muqaddimahnya, diperkuat lagi dengan hadith-hadith yang beliau riwayatkan tentang hal tersebut.

Dalam kitab ini, beliau mengumpulkan sekumpulan perkataan tentang Ilmu Tasawuf dan ahli Ulamanya dengan menertibkan tingkatan mereka sesuai dengan tingkatnya masing-masing, lebih kurang terdapat 800 tokoh ulama yang telah beliau sebutkan didalam kitabnya itu, mulai dari para sahabat yang empat(Khulafa al-Raasyidiin), kemudian para sahabat al-Mubasysyiiriina bil Jannah, kemudian para sahabat-sahabat yang lain dan Ahli Suffah, lalu disusul para Tabi`in, Tabiut Tabi`in dan para ulama ahli Ibadah atau Tasawwuf lainnya sampai dengan yang semasa dengannya.

Dengan menyebutkan Sanad yang panjang dan pengulangan cerita atau hadith yang sama di beberapa tempat yang berbeda.

Setelah beliau menyebutkan nama salah seorang ulama kemudian beliau memperkenalkan profil, manaqib dan cerita-cerita yang berkenaan dengan ulama tersebut secara terperinci.

Contohnya; seperti yang telah disebutkan oleh Ibn al-Jauzi dalam ringkasannya terhadap kitab Hilyatul-Auliya tentang terjemahan kepada al-Hasan al-Basri mengenai perkataannya, dalam waktu dan tempat yang lain ketika Abu Nu`aim menterjemahkan para sahabat al-Hasan al-Basri beliau mengulanginya kembali cerita yang sama dari perkataan al-Hasan tersebut. Beliau meletakkan hadith sesuai dengan nama yang telah beliau sebutkan satu persatu, mulai dari Khulafaur Rasyidin sampai seterusnya sampai kepada para ulama yang semasa dengannya, sekalipun masih ada yang keliru, seharusnya didahulukan tetapi justru beliau mengakhirkannya sebagaimana yang disampaikan oleh al-Imam al-Jauzi dalam Safwatu al-Sawah.

*IV. PUJIAN & KRITIK*

Imam Adz-Dzahabi -rahimahulloh- mengatakan, "Dia adalah Imam Al-Hafizh (penghafal Hadis), Ats-Tsiqah (terpercaya), sangat alim, maha guru Islam."

Imam Al-Khatib Al-Baghdadi -rahimahulloh- mengatakan, "Saya tidak melihat orang yang layak menyandang gelar Al-Hafizh selain dua orang: Abu Nu'aim Al-Ashfahani dan Abu Hazim Al-A'raj."

Ibnu Ahmad Al-Hambali -rahimahulloh- mengatakan, "Abu Nu'aim adalah satu-satunya orang di dunia ini yang memiliki isnad tertinggi yang disertai dengan kuatnya hafalan dan kedalaman pengetahuan dalam bidang Hadis dan disiplin ilmu-ilmunya."

Ibnu Mardawaih -rahimahulloh- mengatakan, "Abu Nu'aim adalah orang yang didatangi banyak orang pada zamannya. Di seluruh penjuru dunia ini tidak ada orang yang lebih baik sanad dan hafalannya daripada dia. Para huffadh (penghafal Hadis) dunia berkumpul di sisinya. Sehingga setiap hari menjadi giliran salah seorang di antara mereka untuk mem-baca apa yang dia inginkan sampai menjelang Dhuhur. Lalu ketika dia (Abu Nu'aim) pulang ke rumahnya, terkadang ada orang yang membaca satu juz di hadapannya selama di jalan dan dia sama sekali tidak mengeluh. Dia selalu sibuk dengan menulis atau menyampaikan Hadis."

Ibnu Khalkan - rahimahulloh- mengatakan, "Dia adalah Al-Hafizh yang sangat populer, penulis kitab Hilyatul Auliya, Dia termasuk salah satu tokoh terkemuka dan salah seorang hafizh besar yang tsiqah (terpercaya)."

Imam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- pernah ditanya tentang orang yang mau mendengarkan kitab-kitab Hadis dan Tafsir. Tapi ketika kitab Hilyatul Auliya’ dibacakan kepadanya, orang itu tidak mau mendengarkannya. Maka Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- menjawab, "Abu Nu'aim adalah salah satu penghafal Hadis terkemuka, penulis buku terbanyak, dan karya tulisnya banyak dimanfaatkan orang. Dia lebih besar daripada sekedar disebut tsiqah (terpercaya). Karena kualitasnya lebih tinggi daripada gelar itu, dan kitabnya (Hilyatul Auliya) adalah salah satu buku terbaik yang mengangkat kisah-kisah orang-orang zuhud. Meskipun demikian, di dalamnya terkandung Hadis-Hadis dan hikayat-hikayat yang batil." (lihat Majmu Al-Fatawa, I8/17)

Ibnu Nashiruddin Ad Dimasqi -rahimahulloh- mengatakan,"Ketika kitab Hilyatul Auliya selesai disusun, mereka membawanya ke Naisabur dan terjual dengan harga 400 Dinar."

Dan Ibnu Katsir -rahimahulloh- mengatakan, "Abu Nu'aim Al-Ashfahani adalah seorang hafizh (penghafal Hadis) yang besar dan memiliki banyak karya tulis yang bermanf aat dan populer.

Di antaranya adalah Hilyatul Auliya yang terdiri dari banyak jilid. Ini menunjukkan luasnya periwayatan, banyaknya guru, kekuatannya dalam menelaah sumber-sumber Hadis dan banyaknya jalur yang dilaluinya.

Kritik terhadap Kitab ini :

1. Banyak memuat Hadits maudlu (palsu), tanpa disertai keterangan.
2. Menyandarkan perilaku sufi kepada para sahabat terkemuka seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman, rhodiyallohu Anhum, juga kepada para imam terkemuka selain mereka.
3. Menyebutkan hikayat-hikayat dan banyak hal tentang sufisme yang tidak boleh dikerjakan. Karena bisa jadi itu akan didengar oleh pemula yang sedikit ilmunya, dan mengira bahwa itu semua adalah baik kemudian diamalkan.
4.Terlalu banyak menyebutkan hal-hal yang bukan menjadi bagian dari tema sentral kitab ini (yaitu kisah tentang orang-orang zuhud). Misalnya, menyebutkan banyak cerita tentang orang-orang zuhud yang terkadang keluar dari pembicaraan tentang ibadah dan kezuhudan mereka.

Oleh karena itulah,dari sumber kitab asli yang telah ditahqiq / diteliti ulang :
1. diteliti kitab dan mengakurasikan redaksi nya
2. mentahrij ayat-ayat Al Qur’an
3. mentakhrij hadits-hadits dengan disertai penjelasan tentang keshahihan atau kelemahannya dengan merujuk pada kitab-kitab Shahih lainnya.
4.menerangkan kata-kata yg sulit difahami makna dalam kitab asli nya.

Perselisihan Antara Ibnu Mandah dengan Abu Nu’aim :

Para ulama menceritakan bahwasanya antara kedua ulama ini telah terjadi perselisihan dalam sebagian masalah akidah, yaitu tentang persoalan lafaz al-Qur’an. Bangkitlah Abu Nu’aim menulis bantahan kepada Ibnu Mandah dengan kitabnya ar-Radd ‘alal Hurufiyah wal Hululiyah. Demikian juga sebaliknya, Ibnu Mandah menulis bantahan dengan kitabnya ar-Radd ‘alal Lafzhiyah. Keduanya saling men-jarh/mengkritik satu sama lain.

Imam Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa Abu Nu’aim termasuk penganut paham Asy’ari. Beliau lebih condong kepada pendapat yang mengatakan bahwa tilawah atau bacaan al-Qur’an adalah makhluk. Adapun Imam Ibnu Mandah berpegang kepada akidah salaf.

Beliau berpendapat bahwasanya lafaz al-Qur’an bukanlah makhluk. Peselisihan yang terjadi antara Imam Bukhari dengan Imam Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli pun muncul akibat permasalahan serupa.

Oleh sebab itu para ulama tidak menerima komentar miring dari salah seorang di antara mereka berdua terhadap lawannya. Tatkala menanggapi komentar miring dari Abu Nu’aim tentang Ibnu Mandah, Imam adz-Dzahabi berkata, “Kami tidak mau ambil pusing dengan ucapanmu mengenai musuhmu karena permusuhan yang ada. Sebagaimana kami juga tidak mau mendengar komentar darinya mengenai anda…” Inilah kaidah yang dipegang oleh para ulama. Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Setiap orang yang telah terbukti kredibilitasnya, maka tidak bisa diterima celaan atasnya dari siapa pun kecuali apabila tuduhan itu benar-benar didukung keterangan yang jelas sehingga tidak ada kemungkinan lain kecuali harus mengarahkan jarh/kritikan kepada dirinya.”
Apakah Melafazkan al-Qur’an Itu Makhluk?

Untuk menjelaskan hal ini, kami sengaja bawakan keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang telah diringkas oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dalam kitabnya Fathu Rabbil Bariyyah (hal. 70 cet. Dar Ibnul Jauzi tahun 1424 H).

al-Qur’an merupakan kalam/ucapan Allah. Ini sudah jelas. Akan tetapi, bolehkah kita katakan bahwa lafaz al-Qur’an itu makhluk, atau bukan makhluk, atau harus diam dalam persoalan ini?!

Jawaban yang benar, memberikan hukum umum dalam permasalahan ini, yaitu dengan serta merta menolak atau menerima pernyataan ‘lafaz al-Qur’an adalah makhluk’ adalah tidak tepat. Sebab hal ini harus dirinci terlebih dahulu. Jika yang dimaksud dengan lafaz itu adalah perbuatan (fi’il) mengucapkannya yang hal itu termasuk perbuatan hamba maka jelas ini adalah makhluk. Karena hamba beserta perbuatannya adalah makhluk. Namun, apabila yang dimaksud dengan lafaz itu adalah ucapan yang dilafazkan (maf’ul) maka itu adalah kalam/ucapan Allah dan bukan makhluk. Karena kalam Allah merupakan salah satu sifat-Nya, sedangkan sifat-Nya bukan makhluk.

Perincian semacam ini telah diisyaratkan oleh Imam Ahmad. Imam Ahmad mengatakan, “Barangsiapa yang berpendapat bahwa lafazku dalam membaca al-Qur’an adalah makhluk dan yang dia maksud dengannya adalah al-Qur’an maka dia adalah penganut paham Jahmiyah.” Perkataan Imam Ahmad ‘dan yang dia maksud adalah al-Qur’an’ menunjukkan bahwa apabila yang dia maksudkan bukanlah al-Qur’an akan tetapi perbuatan melafazkan yang ini merupakan perbuatan manusia, maka orang yang mengucapkannya tidak bisa dicap sebagai penganut paham Jahmiyah.

REFERENSI
Kitab Hilyah Auliya
kitab majmu' fatawa li ibn taimiyyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulumul Qur'an • Kaidah Penulisan Hamzah (Kaidah Imla dan Rasm)

Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM) Kaidah Penulisan Hamzah (Kaidah Imla dan Rasm) Cara menulis hamzah di awal, di tengah, dan di akhir Berbeda dengan huruf hijaiyah lainnya, hamzah mempunyai kaidah tersediri dalam penulisannya. Hamzah bisa ditulis dalam bentuk alif, ya’, wau, atau mandiri (seperti kepala ain). Di bawah ini akan dijelaskan cara penulisan hamzah dalam kaidah imla’ dan juga rasm utsmani. Penulisan Hamzah 1. Hamzah di awal kata Ketika hamzah berada di awal kata, maka di tulis dalam bentuk alif, baik hamzah qatha maupun hamzah washal. Perbedaanya kalau menulis hamzah qatha harus ada kepala hamzahnya (ء) di atas alif ketika berharakat fathah dan dhammah serta berada di bawah alif ketika berharakat kasrah. Sedangkan menulis hamzah washal berbentuk alif saja tanpa ada kepada hamzah. Contoh hamzah qatha: أَنْعَمْتَ – أُنَاسٌ - إِكْرَامٌ Contoh hamzah washal: اَلْأَنْهَارُ - اِبْنٌ - اُنْصُرْ === Perbedaan hamzah qatha dan hamzah washal === 2. Hamzah di tengah Hamza...

Enam (6) Kaidah Rasm Utsmani (Kaidah Penulisan Al-Qur'an)

Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM) Kaidah Rasm Utsmani | Khath Utsmani | Rasmul Qur'an Rasm bisa diartikan atsar (bekas), khat (tulisan) atau metode penulisan. Rasm Utsmani atau disebut juga Rasmul Qur’an adalah tata cara penulisan Al-Qur’an yang ditetapkan pada masa khlalifah Utsman bin Affan. Istilah Rasmul Qur’an diartikan sebagai pola penulisan al-Qur’an yang digunakan Ustman bin Affan dan sahabat-sahabatnya ketika menulis dan membukukan Al-Qur’an. Yaitu mushaf yang ditulis oleh panitia empat yang terdiri dari Mus bin zubair, Said bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-harits. Mushaf Utsman ditulis dengan kaidah tertentu. Menulis Kaligrafi Al-Qur'an Kaidah rasm utsmani ada 6: 1. Hadzf (الْحَذْف) Hadzf artinya membuang. Nah dalam penulisan Al-Qur’an ada beberapa huruf yang dibuang. Huruf yang dibuang diantaranya alif, wau, ya’, lam dan nun. Contoh wau yang dibuang: اَلْغَاونَ (اَلْغَاوُوْنَ) Contoh ya’ yang dibuang: وَلِيَ دِيْنِ (دِيْنِيْ) Contoh lam yang dibuang: ...

Imam Al-Ghazali: Sang Hujjatul Islam

Imam Al-Ghazali: Sang Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali, yang terkenal dengan Hujjatul Islam (argumentator Islam) karena jasanya yang besar di dalam menjaga Islam dari pengaruh ajaran bid’ah dan aliran rasionalisme Yunani. Beliau lahir pada tahun 450 H, bertepatan dengan 1059 M di Ghazalah, suatu kota kecil yang terlelak di Thus wilayah Khurasan yang waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam. Para Ulama nasab berselisih pendapat dalam penyandaran nama Imam Ghazali ra, sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thus tempat kelahiran beliau ini dikuatkan oleh Al-Fayumi dalam Mishbahul Munir, penisbatan ini kepada salah seorang keturunan Imam Ghazali yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhammad bin Abi Thohir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah, anaknya Sitti Al-Mana Binti Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali yang mengatakan: “...