Langsung ke konten utama

Apa arti Tauhid?

Apa arti Tauhid? Sebuah pertanyaan besar yang bisa mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik ketika dia berusaha menerapkan jawaban dari pertanyaan tersebut dengan baik dan benar. Tentunya hal ini harus dilakukan dengan dua syarat: ikhlas untuk Allah dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa Arti Tauhid Tauhid Secara Bahasa. Asal kata tauhid dalam bahasa arab adalah bentuk masdar dari fi’il (kata tugas) wahhada-yuwahhidu-tauhiidan: وَحَّدَ – يُوَحِّدُ – تَوْحِيْدًا (dengan huruf ha di tasydid). Arti tauhid dalam secara bahasa adalah: وَحَّدَ الشَيْءَ إِذَا جَعَلَهُ وَاحِدًا “menjadikan sesuatu menjadi satu saja.” Tauhid Secara Istilah. Adapun secara istilah, arti tauhid adalah mengesakan Allah dalam sesuatu yang menjadi kekhususan-Nya baik dalam perbuatan Allah, perbuatan hamba (berupa peribadatan) serta dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah, bersamaan dengan menafikan semua kekhususan tersebut dari selain Allah. Hal ini terkandung dalam kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (laa ilaha illallahu).

Contoh Tauhid dalam Perbuatan Allah Contoh tauhid dalam perbuatan Allah Ta’ala adalah menyakini bahwa Allah Maha Esa dalam penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. Meyakini bahwa HANYA Allah lah Dzat yang satu-satunya menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala manfaat dan menolak segala mudharat. Juga meyakini bahwa Allah mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah. Meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini. Allah Ta’ala berfirman: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ “Katakanlah! Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlash: 1-4).

Contoh Tauhid dalam Perbuatan Hamba Contoh tauhid dalam perbuatan hamba adalah menjadikan HANYA Allah lah satu-satunya tujuan dalam segala jenis ibadah seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam baik dalam Al Qur’an maupun Hadits. Tidak boleh memberikan ataupun membagi peribadatan SEDIKITPUN kepada selain Allah. Dengan kata lain tidak boleh beribadah kepada Allah bersamaan dengan beribadah kepada selain Allah Ta’ala, karena semua jenis ibadah hanyalah HAK Allah semata. Allah ta’ala berfirman: وَاعْبُدُوااللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا “Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (An Nisa: 36).

Contoh Tauhid dalam Nama-nama dan Sifat-sifat Allah Tauhid dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah diterapkan dengan meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang telah Allah kabarkan dalam Al Qur’an dan telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan dalam hadits-haditsnya. Wajib meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah Ta’ala: وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا “Dan Allah memiliki nama-nama yang baik.” (Al A’raf: 180). وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ “Dan Allah memiliki permisalan yang tinggi.” (An Nahl: 60). Wajib meyakininya sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak menyelewengkannya sedikitpun apalagi menolaknya. Contoh penerapan dalam hal ini adalah kaidah dasar yang telah diletakkan oleh Al Imam Asy Syafi’i ketika berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, yaitu sebagai berikut: “Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah dan sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah. Aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Rasulullah”.

Kesimpulan Pembahasan “Apa Arti Tauhid?” Sehingga, arti tauhid (Arab: التوحيد) adalah konsep dalam aqidah Islam yang meyakini keesaan Allah baik dalam perbuatan Allah (seperti: Pencipta, Pemberi Rizki, dll), perbuatan makhluk (dalam semua jenis ibadah) serta dalam Penamaan dan Pensifatan Allah (seperti: Allah Maha Mendengar, Allah Maha Melihat, Allah Maha Mengetahui), yang semua hal tersebut merupakan kekhususan bagi-Nya yang tidak boleh menjadikan sekutu bagi-Nya dalam perkara ini. Hal ini sebagaimana yang telah disampaikan melalui Al Qur’an dan Hadits dengan penerapan yang benar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Jika Anda ingin jawaban yang lebih lengkap dari pertanyaan Apa Arti Tauhid? dengan dalil-dalil yang rinci dapat dibaca pada pembahasan: ilmu tauhid. Barakallahu fiikum.

محمّد اوليآء حفيظ المجيد

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulumul Qur'an • Kaidah Penulisan Hamzah (Kaidah Imla dan Rasm)

Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM) Kaidah Penulisan Hamzah (Kaidah Imla dan Rasm) Cara menulis hamzah di awal, di tengah, dan di akhir Berbeda dengan huruf hijaiyah lainnya, hamzah mempunyai kaidah tersediri dalam penulisannya. Hamzah bisa ditulis dalam bentuk alif, ya’, wau, atau mandiri (seperti kepala ain). Di bawah ini akan dijelaskan cara penulisan hamzah dalam kaidah imla’ dan juga rasm utsmani. Penulisan Hamzah 1. Hamzah di awal kata Ketika hamzah berada di awal kata, maka di tulis dalam bentuk alif, baik hamzah qatha maupun hamzah washal. Perbedaanya kalau menulis hamzah qatha harus ada kepala hamzahnya (ء) di atas alif ketika berharakat fathah dan dhammah serta berada di bawah alif ketika berharakat kasrah. Sedangkan menulis hamzah washal berbentuk alif saja tanpa ada kepada hamzah. Contoh hamzah qatha: أَنْعَمْتَ – أُنَاسٌ - إِكْرَامٌ Contoh hamzah washal: اَلْأَنْهَارُ - اِبْنٌ - اُنْصُرْ === Perbedaan hamzah qatha dan hamzah washal === 2. Hamzah di tengah Hamza...

Enam (6) Kaidah Rasm Utsmani (Kaidah Penulisan Al-Qur'an)

Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM) Kaidah Rasm Utsmani | Khath Utsmani | Rasmul Qur'an Rasm bisa diartikan atsar (bekas), khat (tulisan) atau metode penulisan. Rasm Utsmani atau disebut juga Rasmul Qur’an adalah tata cara penulisan Al-Qur’an yang ditetapkan pada masa khlalifah Utsman bin Affan. Istilah Rasmul Qur’an diartikan sebagai pola penulisan al-Qur’an yang digunakan Ustman bin Affan dan sahabat-sahabatnya ketika menulis dan membukukan Al-Qur’an. Yaitu mushaf yang ditulis oleh panitia empat yang terdiri dari Mus bin zubair, Said bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-harits. Mushaf Utsman ditulis dengan kaidah tertentu. Menulis Kaligrafi Al-Qur'an Kaidah rasm utsmani ada 6: 1. Hadzf (الْحَذْف) Hadzf artinya membuang. Nah dalam penulisan Al-Qur’an ada beberapa huruf yang dibuang. Huruf yang dibuang diantaranya alif, wau, ya’, lam dan nun. Contoh wau yang dibuang: اَلْغَاونَ (اَلْغَاوُوْنَ) Contoh ya’ yang dibuang: وَلِيَ دِيْنِ (دِيْنِيْ) Contoh lam yang dibuang: ...

Imam Al-Ghazali: Sang Hujjatul Islam

Imam Al-Ghazali: Sang Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali, yang terkenal dengan Hujjatul Islam (argumentator Islam) karena jasanya yang besar di dalam menjaga Islam dari pengaruh ajaran bid’ah dan aliran rasionalisme Yunani. Beliau lahir pada tahun 450 H, bertepatan dengan 1059 M di Ghazalah, suatu kota kecil yang terlelak di Thus wilayah Khurasan yang waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam. Para Ulama nasab berselisih pendapat dalam penyandaran nama Imam Ghazali ra, sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thus tempat kelahiran beliau ini dikuatkan oleh Al-Fayumi dalam Mishbahul Munir, penisbatan ini kepada salah seorang keturunan Imam Ghazali yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhammad bin Abi Thohir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah, anaknya Sitti Al-Mana Binti Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali yang mengatakan: “...