Langsung ke konten utama

KITAB THUFATUL ATHFAL_BAB HUKUM NUN MATI DAN TANWIN



    cyberdakwahauliamedia27@gmail.com (CDAM27)

     HUKUM MUN MATI DAN TANWIN 

    لِلـنُّــونِ إِنْ تَسْـكُنْ وَلِلتّـَنْوِينِ

    أَرْبَـعُ أَحْكَـامٍ فَخُـذْ تَبْـيِـيـنِـي

    Bagi nun ketika sukun (nun mati) dan tanwin, berlaku empat hukum, maka ambillah perhatikanlahpenjelasanku.

     

    فَـالأَوَّلُ الإظْـهَارُ قَـبْـلَ أَحْـرُفِ

    لِلْحَـلْـقِ سِـتٍ رُتِّبَتْ فَلـتَـعْرِفِ

    Adapun yang pertama adalah idzhar yaitu apabila ada nun mati atau tanwin berada sebelum huruf halqi (tenggorokan) yaitu huruf-huruf yang makhrojnya ada di tenggorokanyang berjumlah enam yang disusun tertib urutannya pada nadzom berikutnya, maka ketahuilah dan hafalkanlah.
    Idzhar (الإظْـهَارُ) secara bahasa berarti jelas, dengan demikian maka harus membaca dengan jelas tanpa ada dengung (ghunnah), sedangkan secara bahasa idzhar berarti mengeluarkan/menyuarakan huruf dari makhrojnya dengan tanpa ghunnah/dengung.

     

    هَمْـزٌ فَـهَـاءٌ ثُـمَّ عَـيْـنٌ حَـاءُ

    مُـهْمَلَـتَانِ ثُــمَّ غَيْـنٌ خَــاءُ

    Huruf-huruf idzhar atau huruf halqi yang enam tersebut adalah hamzah (أ), kemudian Ha'(ه), yang memiliki makhroj pangkal tenggorokanlalu 'ain (ع), ha'(ح)tanpa titik yang memiliki makhroj tengah tenggorokan, kemudianhuruf halqi selanjutnya adalah ghoin(غ) dan kho'(خ) yang memiliki makhroj di ujung tenggorokan.
    Oleh karena itulah, idzhar ini sering disebut dengan idzhar halqi. Contoh-contoh bacaan idzhar dalam al-Qur'an: يَنْأَوْنَ (al-an'am:26) , dibaca dengan idzhar karena ada nun mati/nun sakinah bertemu hamzah dalam satu kalimat
    ، مَنْ اۤمَنَ (an-nisa':55), dibaca dengan idzhar karena ada nun mati bertemu hamzah dalam dua kalimat.
    ، كُلٌّ آمَنَ (al-baqarah:285), dibaca dengan idzhar karena ada tanwin bertemu hamzah, dalam dua kalimat
    ، جُرُفٍ هَارٍ (at-taubah:109), dibaca dengan idzhar karena terdapat tanwin bertemu Ha'
    ، أَنْعَمْتَ(al-fatihah:7), terdapat nun mati bertemu 'ain
    ، مِنْ عَمَلٍ (al-furqan:23, yunus:61), terdapat nun mati bertemu 'ain
    ، حَقِيْقٌ على (al-a'raf:105), terdapat tanwin bertemu 'ain
    ، تَنْحِتُوْنَ (ash-shaafaat:95, asy-syu'ara:149, al-a'raf:74), terdapat nun mati bertemu ha'
    ، مِنْ حَكيم (fushshilat:42), terdapat nun mati bertemu ha'
    ، عَلِيْمٌ حكيم (al-hujurat:8, dsb), terdapat tanwin bertemu ha'dalam dua kalimat
    ، فَسَيُنْغِضُونَ (al-isra':51), terdapat nun mati bertemu ghoin.
    ، مِنْ غِلٍّ (al-isra':43, al-hijr:47), terdapat nun mati bertemu ghoin,
    ، حَلِيمًا غَفُورًا (al-isra:44, faathir:41), terdapat tanwin bertemu ghoin
    ، وَالْمُنْخَنِقَةُ (al-maidah:3), terdapat nun mati bertemu kho'
    ، منْ خَيْرٍ (ali-imran:115 dsb), terdapat nun mati bertemu kho'
    ، لَطِيْفٌ خَبير (al-ahzab:34, al-hajj:63, luqman:16), terdapat tanwin bertemu kho'

     

    والـثّـَانـي إِدْغَـامٌ بِسـتَّةٍ أَتَـتْ

    فِـي يَـرْمَـلُـونَ عِنْدَهُمْ قَدْ ثَبَتَتْ

    Dan adapun hukum nun mati dan tanwin yang kedua adalah idghom dengan enam huruf yang akan datang kemudian, yang terkumpul dalam kata يَـرْمَـلُـونَ yaitu huruf ya'(ي), ro'(ر), mim (م), lam (ل), waw (و), dan nun (ن),Telah kusampaikan disisimu dengan sebenarnya.
    Idghom secara lughowi/bahasa berarti masuk atau memasukkan. Sedangkan secara istilah, berarti memasukkan atau meleburkan huruf pertama (nun mati/tanwin) kepada huruf kedua (huruf idghom), sehingga seakan menjadi satu huruf yang di tasydid dari huruf jenis kedua.

     

    لَـكِنَّهَا قِسْـمَانِ قِسْــمٌ يُـدْغَـمَا

    فِـيهِ بِـغُـنّـَةٍ بِيَـنْـمُو عُلِـمَـا

    Akan tetapiketahuilah bahwa idhghom itu (atau himpunan huruf-huruf idghom tersebut) ada dua jenis, jenis pertama adalah idghom dengan disertai dengung (ghunnah) yaitu apabila nun mati atau tanwin bertemu denganhuruf yang terkumpul dalam kata يَـنْـمُو yaitu apabila bertemu dengan salah satu huruf ya', nun, mim atau wawu, diketahui bahwa hukum bacaan tersebut adalah idghom bighunnah (dengan berdengung). Dengan syarat, nun mati dan huruf idghom bighunnah tersebut tidak berada dalam satu kata.
    Contoh:
    - مَنْ يَقُولُ (al-baqarah:8), nun mati bertemu dengan ya', tidak dalam satu kata. Nun mati berada pada akhir kata مَنْ dan ya'berada di awal kata يَقُولُ. Kata tersebut dapat diterjemahkan menjadi, orang (yang) berkata.
    - وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ (al-baqarah:19), tanwin bertemu dengan ya', tidak dalam satu kata.
    - مِنْ النُّورِكُمْ (al-hadid:13), nun mati bertemu dengan nun, tidak dalam satu kata.
    - حِطَّةٌ نَغْفِرْ (al-baqarah: 58), tanwin bertemu dengan nun, tidak dalam satu kata.
    - مِنْ مَّالٍ (al-mu'minun:55), terdapat nun mati bertemu dengan mim, tidak dalam satu kata.
    - مَثَلًا مَّا (al-baqarah:26), terdapat tanwin bertemu dengan mim, tidak dalam satu kata.
    - مِن وَّالٍ (ar-ra'd:11), terdapat nun mati bertemu dengan wawu/waw
    - غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ (al-baqarah:7), terdapat tanwin bertemu dengan wawu.

     

    إِلاَّ إِذَا كَـانَـا بِـكــِلْمَـةٍ فَــلاَ

    تُـدْغِـمْ كَدُنْـيَا ثُمَّ صِـنْوَانٍ تَـلاَ

    Kecuali apabila keberadaan huruf-huruf tersebut dalam satu kata, maka tidak diidghomkan, seperti دُنْـيَاdimana nun mati dan ya'bertemu dalam satu kata, kemudian contoh lainya adalah صِـنْوَانٍ bacalah dengan tanpa idghom, tanpa dengung.
    Syarat dibaca idghom bighunnah/dengan berdengung adalah jika nun mati dan tanwin tersebut tidak berada dalam satu kata, dan jika nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf idghom yang terkumpul dalam kata يَـنْـمُو maka dibaca idzhar, yaitu membaca nun dengan jelas, tanpa berdengung. Terdapat empat kata (dan banyak tempat) dalam al-Qur'an untuk kasus ini, yaitu:
    1. الدُّنْيَا, misalnya pada surah Al-a'la:16, dimana nun mati bertemu dengan ya'dalam satu kata, nun mati dibaca dengan jelas/idzhar.
    2. بُنْيَان, misalnya pada surah Shaf:11, dibaca dengan tanpa idghom maupun ghunnah.
    3. قِنْوَانٌ (al-an'am:99), nun mati bertemu dengan wawu dalam satu kata.
    4. صِنْوَان (ar-ra'd:4), nun mati bertemu dengan wawu dalam satu kata.

     

    وَالثَّـانـي إِدْغَــامٌ بِغَيْــرِ غُـنَّةْ

    فـي الـلاَّمِ وَالـرَّا ثُـمَّ كَـرّرَنَّـهْ

    Dan adapun jenisyang kedua dari idghom (atau pembagian kedua dari huruf-huruf idghom) adalah yang dibaca idghom dengan tanpa berdengung (idghom bilaa ghunnah) yaitu apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf lam dan ra'maka selanjutnya bacalah dengantakrir (bergetar) untuk ra'.
    Contoh:
    - مِنْ لَّدُنْهُ (an-nisaa':40, al-kahfi:2), nun mati bertemu dengan lam
    - هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (al-baqarah:2), tanwin bertemu dengan lam
    - مِنْ رَبِّهِمْ (misalnya pada surah luqman:5), nun mati bertemu dengan ra'
    - ثَمَرَةٍ رِزْقًا (al-baqarah:25), tanwin bertemu dengan ra'

     

    وَّالثَـالـثُ الإِقْـلاَبُ عِنْـدَ الْبَـاءِ

    مِيــماً بِغُـنَــةٍ مَـعَ الإِخْـفَـاءِ

    Danhukum nun mati dan tanwin yang ketiga adalah iqlab, yaitu ketika bertemuba'maka cara membacanya berubah menjadi mimdengan mendengung serta dibaca dengan samar.
    Iqlab secara bahasa berarti mengubah sesuatu, atau membalik (قلب).
    Sedangkan secara istilah, iqlab adalah merubah/membalik bunyi nun mati dan tanwin menjadi bunyi mim ringan/mukhofah. Huruf iqlab hanya satu yaitu ba'(ب).
    contoh kata:
    - أَنْبِئْهُمْ(al-baqarah:33), nun mati bertemu dengan ba'
    - أَنْ بُورِكَ(an-Naml:8)
    - سَمِيعٌ بَصِيرٌ (misalnya pada surah luqman:8)

     

    وَالرَّابِـعُ الإِخْـفَاءُ عِنْـدَ الْفاضِـلِ

    مِـنَ الحُـرُوفِ وَاجِـبٌ لِلْفَاضِـلِ

    Danhukum nun mati dan tanwin yang keempat adalah ikhfa'yaitu ketika bertemu dengan sisa hurufdari huruf hijai'yah yang bukan tiga hukum terdahulu, dari huruf-huruf hijaiyah wajib mengikuti hukum-hukum bacaannya menurut yang utama (ahli qiraat).
    Ikhfa'secara bahasa berarti menyamarkan (الستر).
    Secara istilah ikhfa'berarti menyamarkan bunyi nun mati atau tanwin, dan membacanya dengan suara/cara membaca diantara idzhar dan idghom, secara berdengung; yang dilakukan ketika nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu daru huruf ikhfa'yang berjumlah 15 yang disebutkan kemudian:

     

    فـي خَمْسَـةٍ مِنْ بَعْدِ عَشْرٍ رَمْزُهَا

    فِـي كِلْمِ هذَا البَيْتِ قَـدْ ضَمَّنـْتُـهَا

    Yaitu di dalam lima setelah sepuluh (dalam lima belas) huruf tersusun pada awal kata (huruf awal)dalam kalimat bait syair yang sungguh telah kukumpulkan:

     

    صِفْ ذَا ثَـنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سمَا

    دُمْ طَيّـَباً زِدْ فِي تُـقَىً ضَعْ ظَالِـمَا

    Bait tersebut adalah: صِفْ ذَا ثَـنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سمَا دُمْ طَيّـَباً زِدْ فِي تُـقَىً ضَعْ ظَالِـمَا yaitu yang termasuk huruf ikhfa'adalah ص، ذ، ث، ك، ج، ش، ق، س، د، ط، ز، ف، ت، ض، ظ
    contoh:
    - مَنْصُورًا (a-isra':33)
    - مُنذِرٌ (ar-ra'd:7)
    - مَنثُورًا (al-furqan:23)
    - مِنكُمْ (misalnya pada al-baqarah:65)
    - أَنجَيْنَاكُمْ(al-a'raf:141)
    - الْمُنشِئُونَ(al-waqi'ah:72)
    - يَنقَلِبُ (al-baqarah:143)
    - مِنسَأَتَهُ (Saba':14)
    - أَندَادًا(al-baqarah:22)
    - يَنطِقُونَ (al-anbiya:23)
    - أَنزَلْنَاهُ(al-an'am:92)
    - انفِرُوا(an-Nisa':71)
    - مُنتَهُونَ (al-maidah:91)
    - مَنضُودٍ (Hud:82)
    - انظُرُوا(al-an'am:11)


      BAB NUN MATI DAN TANWIN


    Penulis:

    M Aulia Hafidz Al-Majied Lc


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulumul Qur'an • Kaidah Penulisan Hamzah (Kaidah Imla dan Rasm)

Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM) Kaidah Penulisan Hamzah (Kaidah Imla dan Rasm) Cara menulis hamzah di awal, di tengah, dan di akhir Berbeda dengan huruf hijaiyah lainnya, hamzah mempunyai kaidah tersediri dalam penulisannya. Hamzah bisa ditulis dalam bentuk alif, ya’, wau, atau mandiri (seperti kepala ain). Di bawah ini akan dijelaskan cara penulisan hamzah dalam kaidah imla’ dan juga rasm utsmani. Penulisan Hamzah 1. Hamzah di awal kata Ketika hamzah berada di awal kata, maka di tulis dalam bentuk alif, baik hamzah qatha maupun hamzah washal. Perbedaanya kalau menulis hamzah qatha harus ada kepala hamzahnya (ء) di atas alif ketika berharakat fathah dan dhammah serta berada di bawah alif ketika berharakat kasrah. Sedangkan menulis hamzah washal berbentuk alif saja tanpa ada kepada hamzah. Contoh hamzah qatha: أَنْعَمْتَ – أُنَاسٌ - إِكْرَامٌ Contoh hamzah washal: اَلْأَنْهَارُ - اِبْنٌ - اُنْصُرْ === Perbedaan hamzah qatha dan hamzah washal === 2. Hamzah di tengah Hamza...

Enam (6) Kaidah Rasm Utsmani (Kaidah Penulisan Al-Qur'an)

Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM) Kaidah Rasm Utsmani | Khath Utsmani | Rasmul Qur'an Rasm bisa diartikan atsar (bekas), khat (tulisan) atau metode penulisan. Rasm Utsmani atau disebut juga Rasmul Qur’an adalah tata cara penulisan Al-Qur’an yang ditetapkan pada masa khlalifah Utsman bin Affan. Istilah Rasmul Qur’an diartikan sebagai pola penulisan al-Qur’an yang digunakan Ustman bin Affan dan sahabat-sahabatnya ketika menulis dan membukukan Al-Qur’an. Yaitu mushaf yang ditulis oleh panitia empat yang terdiri dari Mus bin zubair, Said bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-harits. Mushaf Utsman ditulis dengan kaidah tertentu. Menulis Kaligrafi Al-Qur'an Kaidah rasm utsmani ada 6: 1. Hadzf (الْحَذْف) Hadzf artinya membuang. Nah dalam penulisan Al-Qur’an ada beberapa huruf yang dibuang. Huruf yang dibuang diantaranya alif, wau, ya’, lam dan nun. Contoh wau yang dibuang: اَلْغَاونَ (اَلْغَاوُوْنَ) Contoh ya’ yang dibuang: وَلِيَ دِيْنِ (دِيْنِيْ) Contoh lam yang dibuang: ...

Imam Al-Ghazali: Sang Hujjatul Islam

Imam Al-Ghazali: Sang Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali, yang terkenal dengan Hujjatul Islam (argumentator Islam) karena jasanya yang besar di dalam menjaga Islam dari pengaruh ajaran bid’ah dan aliran rasionalisme Yunani. Beliau lahir pada tahun 450 H, bertepatan dengan 1059 M di Ghazalah, suatu kota kecil yang terlelak di Thus wilayah Khurasan yang waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam. Para Ulama nasab berselisih pendapat dalam penyandaran nama Imam Ghazali ra, sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thus tempat kelahiran beliau ini dikuatkan oleh Al-Fayumi dalam Mishbahul Munir, penisbatan ini kepada salah seorang keturunan Imam Ghazali yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhammad bin Abi Thohir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah, anaknya Sitti Al-Mana Binti Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali yang mengatakan: “...