Langsung ke konten utama

Ayat-Ayat dan Hadits tentang Entrepreneur (Pengusaha/Kewirausahaan) #Materi Ngajar

بسم االلّه الرّحمن الرّحيم

 
اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا
“... Bekerjalah, hai keluarga Dawud, untuk bersyukur [kepadaAllah]....”. [Saba': 13]

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. [QS. An Nahl: 78]


رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”. [QS. An-Nuur 37]

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Maka apabila shalat telah selesai dikerjakan, bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi dan carilah rezeki karunia Allah". [Al Jumu’ah : 10]

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اْلأَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
"Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekiNya. Dan hanya kepadaNya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan". [Al Mulk : 15]

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الُمتًوَكِّلِينَ
 “…. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. [QS. Al-Imran 159]

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
“…Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. [QS An- Najmu: 39]

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينًََ
“Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu [kebahagiaan] negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari [kenikmatan] duniawi dan berbuat baiklah [kepada orang lain] sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di [muka] bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. [Al-Qashash : 77]


إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (QS.al-lsra’ 36)


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Artinya : “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.” [QS. Al-Munafiquun  9]

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى  قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰوَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا   
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta,Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?", Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". [QS.Thaha 124,125,126]

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, makasesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. [An-Nahl 97]

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُو نَ
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta oran
g-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada [Allah] yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. [At-Taubah : 105]

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. [Al-Kahfi : 110]

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. [Ar-Ra’du 11]

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan”. [Al-Baqarah 148]
إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ
(Yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas”. [Quraisy 2]

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا
“Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta?“. [Al-Qashash 78]

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  لَا شَرِيكَ لَهُ ۖوَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah : “Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Alloh, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri [kepada Allah]”.[al-An’am : 162-163]

لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
“Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. [al-Qashash  76]

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.[al-Araaf  96]

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
“Sesungguhnya kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan kami adakan bagimu di muka bumi [sumber] penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur”.[al-A’raf 10]

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍٍ
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya, semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata [Lauh mahfuzh]”. [Huud : 6]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah”. [al-Baqarah : 172]

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan [keperluan] nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan [yang dikehendaki] Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. [QS. At-Talaq 3]

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [QS. Alam Nasyroh: 5]

سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan”.[QS. Ath Tholaq: 7]



Hadis tentang Entrepreneur

-وَعَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللهِ:لأَنْ يَحْتَطِبَ اَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ اَحَدًا فَيُعْطِيَهُ اَو يَمْنَعَهُ.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya, seorang dari kalian pergi mencari kayu bakar yang dipikul di atas pundaknya itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik diberi atau tidak”. [HR Bukhari, Muslim]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَة وَ عَنْ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ: كَانَ زَكَرِيَّا عَلَيْهِ السَّلامُ نَجَّارًا.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Nabi Zakaria Alaihissalam adalah seorang tukang kayu”. [HR Muslim, no. 2379; Ahmad II/296, 405, 485].

“Tidaklah seseorang memperoleh suatu penghasilan yang lebih baik dari jerih payah tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahi dirinya, istrinya, anaknya dan pembantunya melainkan dihitung sebagai shadaqah” [HR. Ibnu Majah]

 عَنِ المِقْدَامِ بنِ مَعْدِيكَرِبَِ عَنْ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ:مَا اَكَلَ اَحَدٌطَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ اَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِْهِ, وَاِنَّ نَبِيَّّ اللهِ دَاوُدُ عَلَيْهِ السَّلامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِْهِ.
Dari Miqdam bin Ma’dikariba Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam, ia berkata: “Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri, sedang Nabi Daud Alaihissalam juga makan dari hasil usahanya sendiri”. [HR Bukhari]

 طَلَبُ الْحَلالِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ 
“Mencari yang halal itu wajib bagi setiap muslim”. [HR Thabrani]

اعمل لدنياك كأنك تعيش أبداً واعمل لآخرتك كأنك تموت غداً
“Bekerjalah seakan-akan engkau hidup seribu tahun lagi, dan beribadahlah seakan-akan besok engkau akan mati” [Maqala Abdullah bin Amr bin al-Ash]

إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ 
"Sesungguhnya, Allah senang pada hamba-Nya yang apabila mengerjakan sesuatu berusaha untuk melakukannya dengan seindah dan sebaik mungkin”. [HR. Baihaqi]

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ اَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقنَّعَهُ اللهُ بِمَا اَتَاهُ
“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk islam, diberikan rizqi yang cuku dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang di berikan kepadanya”. [HR. Muslim]

 Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
ان النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول اَللهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ الهُدَ والتُّقَى وَالْعَفَفَ وَاْلغِنَى
Nabi Muhammad saw biasa membaca doa: “Ya Allah aku meminta pada-Mu, petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat afaf* dan ghina*”. [HR. Muslim]
*An Nawawi mengatakan afaf dan iffah bermakna menahan diri dari hal yang tidak di perbolehkan. Sedangkan alghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang di sisi manusia.

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ بَاسَ بِالغِنَي لِمَنْ التَّقَى وَالصِّحَةَ لِمَن اِتَّقَى خَيْرًا مِنَ الغِنَى وَطِيْبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ
“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan”. [HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al-Albani mengatakan Hadis ini Shahih]

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ
"Wahai manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, pakailah cara baik dalam mencari [rizki]. Sesungguhnya seseorang tidak akan meninggal sampai ia sudah meraih seluruh [bagian] rizkinya, meskipun tertunda darinya. Bertakwalah kepada Allah dan lakukan cara yang baik dalam mencari [rizki]". [HR Ibnu Majah, kitab at Tijarat]

Dalam hadits Hakim bin Hizam Radhiyallahu 'anhu di bawah ini, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya :
يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ
"Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini begitu hijau lagi manis. Maka barangsiapa yang mengambilnya dengan kesederhanaan jiwa, niscaya akan diberkahi. Dan barangsiapa mengambilnya dengan kemuliaan jiwa, niscaya tidak diberkahi; layaknya orang yang makan, namun tidak pernah merasa kenyang". [HR al Bukhari]

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
"Barangsiapa ingin dilapangkan dalam rizkinya dan ditunda ajalnya, hendaknya ia menyambung tali silaturahmi".[ Al-Bukhori]

التاجر الصدوق الأمين مع النبيين والصديقين والشهداء
“Pedagang yang senantiasa jujur lagi amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang selalu jujur dan orang-orang yang mati syahid”. [HR. Tirmidzi]

إن أطيب الكسب كسب التجار الذي إذا حدثوا لم يكذبوا و إذا ائتمنوا لم يخونوا و إذا وعدوا لم يخلفوا و إذا اشتروا لم يذموا و إذا باعوا لم يطروا و إذا كان عليهم لم يمطلوا و إذا كان لهم لم يعسروا).
“Sesungguhnya sebaik-baik penghasilan ialah penghasilan para pedagang yang mana apabila berbicara tidak bohong, apabila diberi amanah tidak khianat, apabila berjanji tidak mengingkarinya, apabila membeli tidak mencela, apabila menjual tidak berlebihan [dalam menaikkan harga], apabila berhutang tidak menunda-nunda pelunasan dan apabila menagih hutang tidak memperberat orang yang sedang kesulitan”.[HR Al-Baihaqi]

“Ada seseorang bertanya, “Penghasilan apakah yang paling baik, Wahai Rasulullah?” Beliau jawab:
عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور
“Penghasilan seseorang dari jerih payah tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur”. [HR. Ahmad]

عليكم باالتجارة فان فيها تسعة اعشار الرزقة
“Perhatikan olehmu sekalian, sesungguhnya perdagangan itu di dunia ini adalah sembilan dari sepuluh pintu rezeki”. [HR Ahmad]

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Tidaklah seseorang mengkonsumsi makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan dari jerih payah tangannya sendiri. Dan sesungguhnya nabi Daud ‘alaihissalam dahulu senantiasa makan dari jerih payahnya sendiri” [HR. Bukhari]

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah lemah. Apabila sesuatu menimpamu maka janganlah engkau mengatakan: "Andaikan aku mengerjakan begini niscaya akan begini dan begitu." Akan tetapi katakanlah: "Qadarulloh wama Sya'a Fa'al (Semua ini taqdir Alloh, Dia mengerjakan apa yang Dia kehendaki)." Karena kata lau (andaikan) membuka pintu bagi amalan setan”. [HR. Muslim, Ibnu Majah, Ahmad]

ما كسب الرجل كسباً أطيب من عمل يده، وما أنفق الرجل على نفسه وأهله وولده وخادمه فهو صدقة
“Tidaklah seseorang memperoleh suatu penghasilan yang lebih baik dari jerih payah tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahi dirinya, istrinya, anaknya dan pembantunya melainkan ia dihitung sebagai shodaqoh.” [HR. Ibnu Majah]

من ارد الدنيا فعليه بالعلم ومن ارد الأخرة فعليه بالعلم ومن ارد هما فعليه بالعلم
“Barang siapa menghendaki dunia maka hendaknya dia berilmu, barang siapa menghaendaki akhirat maka hendaknya dia berilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka hendaknya dia berilmu pula”.[HR Al-Bukhori]

Cerita Nabi Menjadi Pengusaha
          Nabi Muhammad saw telah berdagang sejak usia beliau masih sangat muda. Dalam usia 12 tahun. Dalam Hayatul Islam M. Husain Haikal mengisahkan kronologi peristiwa ketika Nabi bersama pamannya Abu Thalib berangkat untuk berdagang ke Negara yam [Suriah:Sekarang]. Sebenarnya Abu Thalib tidak ingin Nabi ikut dalam perjalanan tersebut, tapi justru itu adalah kehendak Nabi sendiri yang bersikeras ikut.
          Abu Thalib sangat menyayangi keponakannya sebagaimana ia sayangnya Abdul Muttalib kakek Nabi dan aah Abu Thalib, kepada cucunya. Rasa sayang Abu Thali pada Nabi melebihi rasa sukanya pada anaknya sendiri. Oleh karena itulah, Abu Thalib tidak ingin mengajak Nabi melakukan perjalanan panjang ke Suriah pada saatnya baru 12 tahun. Abu Thalib berfikir aia terlalu muda untuk perjalanan padang pasir yang sangat berat. Namun ia akhirnya mengisinkan Nabi setelah beliau bersikeras untuk ikut.
          Karena Nabi belajar bisis sejak usia yang begitu belia bahkan masih anak-anak maka pantaslah kalau beliau menjadi seorang pengusaha yang sukses. Karena, seorang pakar bisnis, seorang pebisnis sejati yang sukses adalah apabila ia memiliki pengalaman entrepreneurship sejak dini.
          Muhammad saw, mulai merintis karir dagangnya pada usia 12 ahun dan memulai usahanya sendiri ketiak berumur 17 tahuan. Pekerjaan ini terus di lakukan sampai mennjelas beliau menerima wahyu pada usia 37 tahun. Dengan demikian, Nabi menjalani kehidupan sebagai pebisnis selama kurang lebih 25 tahun. Hal ini lebih lama dari masa kerasulan Nabi yang berlangsung sekitar 23 tahun.
          Aktivitas Nabi yang dilakukan sebelum kerasulan beliau menjadi pertanda yang nyata bahwa dalam islam bekerja keras untuk utusan duniawi bukanlah sesuatu yang ditabukan. Lebih dari itu bekerja dan berbisnis justru di anjurkan dan menjadi salah satu dari bagian dari ibadah.

Motivasi Entrepreneur
Bekerja atau berwirausaha merupakan salah satu ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Disamping untuk memperoleh nafkah yang halal dan baik, bekerja juga merupakan perwujudan hubungan ta'awuniyyah (tolong menolong) diantara sesama Muslim. Tatkala seorang penjahit, menjahit baju untuk pelanggannya, ia telah membantu orang lain yang sedang membutuhkan baju, atau pakaian. Demikian juga tukang jahit, ia membutuhkan orang yang hendak menjahitkan kain kepadanya, agar ia memperoleh nafkah yang halal dan baik, begitu seterusnya.

Rasulullah saw telah menjelaskan beberapa keutamaan bekerja. Diantara keutamaan-keutamaan itu adalah sebagai berikut2:

1.  Bekerja Untuk Menjaga Kehormatan dan Kemulyaan Diri

Bekerja adalah refleksi kehormatan dan kemulyaan seseorang. Jika seseorang memiliki profesi halal dan baik; misalnya tukang becak, tukang ojek, guru, petani, dan buruh pabrik, dan lain sebagainya, tentunya ia akan terpandang di sisi Allah dan masyarakat. Sebaliknya, alangkah hinanya di sisi Allah swt, jika seseorang memiliki profesi haram, misalnya pelacur, dukun, eksekutor di bank ribawi, serta pekerjaan-pekerjaan haram lainnya.

2.  Bekerja Untuk Menutupi Dosa

Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwa bekerja keras akan menutupi dosa-dosa yang tidak bisa ditutupi oleh sholat dan puasa. Rasulullah saw bersabda: "Diantara dosa-dosa, ada dosa yang tidak bisa ditutupi dengan puasa dan sholat." Para shahabat bertanya, "Lantas, apa yang bisa menutupi dosa itu Ya Rasulullah?" Rasulullah saw menjawab, "Keseriusan dalam mencari rejeki." Hadits ini mendorong kaum Muslim untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, memenuhi ketentuan-ketentuan syariat dan sebab akibatnya [kausalitas]. Sebab, keseriusan dalam bekerja merupakan wasilah untuk menutupi dosa yang tidak bisa ditutupi oleh ibadah-ibadah yang lain. Ini menunjukkan, bahwa bekerja dengan serius memiliki keutamaan di sisi Allah swt.

3.  Bertemu Allah Dengan Wajah Berseri-seri

Di dalam riwayat lain disebutkan, bahwa orang yang memiliki profesi halal dan baik, akan bertemu dengan Allah swt dengan wajah berseri-seri bagaikan bulan purnama. Rasulullah saw juga bersabda: "Barangsiapa mencari kehidupan dunia yang halal dan baik, maka ia akan menjumpai Allah swt dengan muka berseriseri bagaikan rembulan purnama."

4. Memudahkan Terkabulnya Doa


Pada dasarnya, nafkah terbaik adalah nafkah yang didapatkan dari hasil usahanya sendiri. Nafkah yang halal dan baik, baik berupa makanan, pakaian, ataupun tempat tinggal, merupakan sarana agar doa diterima Allah swt.

Demikianlah, Islam telah memotivasi pengikutnya untuk bekerja, berkarya, dan berusaha dengan serius, dengan tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan syariat Allah swt dan kaedah sebab akibat. Inilah beberapa keutamaan bekerja dan masih banyak keutamaan-keutamaan lainnya.





  1. I.         PENDAHULUAN
    A.      Kata Pengantar
    Hadits riwayat Ibnu Asakir, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup untuk selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok”. Ungkapan yang dalam dari nabi SAW. dengan sarat akan maknanya. Beliau mengajarkan kepada umatnya untuk bekerja semaksimal mungkin dalam urusan duniawi maupun ukhrawi.
    Islam sejak 1400 tahun yang lalu, sudah mengajarkan kepda umatnya untuk berwirausaha, sebagaimana yang nabi SAW. sabdakan bahwa untuk menjadikan seseorang menjadi kaya dengan jalan berwirausaha, karena sembilan dari sepuluh kekayaan dengan cara berdagang atau berwirausaha.
    Berwirausaha kembali pada tujuan utamanya, yaitu sebagai seorang muslim, tujuan utamanya adalah ridhallah, bukan hanya dunia yang digulati saja tetapi akhirat juga. Maka disini berlaku hadits nabi SAW.;“Tangan di atas lebih mulia dari tangan yang di bawah”, maksudnya seseorang memberi atau bersedekah apapun, itu lebih baik daripada yang diberi. Konteks ini, “tangan di bawah” itu tidak memperlihatkan adanya suatu usaha untuk kemakmuran dirinya, sedangkan “tangan di atas” menggambarkan orang tersebut ada sebuah usaha untuk dirinya sendiri dan orang lain.
    Titik hidupnya terletak pada seorang pengusaha (entrepreneur) yang merupakan urat nadi perekonomian. Perannya yang sangat besar dalam memajukan dan mengembangkan dunia. Namun sangat disayangkan, tidak sedikit kaum Muslim mengabaikan aktivitas muamalah yang diperintahkan dalam al-Qur’an dan Hadits. Mereka tidak memperhatikan dakwah Islam yang bijaksana untuk menuju kehidupan bahagia yang sesuai dengan aturan sistem ekonomi Rabbani.
    Meskipun demikian, harapan tetap ada untuk mengembalikan umat pada posisi yang dicintai Allah, yaitu umat yang mempergunakan karunia untuk ketaatan kepada Allah SWT. Memakmurkan negeri dengan sebaik-baiknya, dan mensyukuri limpahan di setiap nikmat yang telah berikanNya.
    Atas landasan inilah kami menulis makalah ini, sebagai upaya untuk berpartisipasi memberikan pemahaman tentang berwirausaha yang baik menurut apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW., agar setiap Muslim dapat memperoleh sebaik-baik kehidupan dunia maupun di akhirat.

    B.       Rumusan Masalah
    1.      Apa contoh hadits yang berkaitan dengan berwirausaha dan pengertian kewirausahaan ?
    2.      Bagaimana prinsip dan ketentuan berwirausaha menurut Islam ?
    3.      Bagaimana sifat-sifat dasar kewirausahaan yang dicintai Allah SWT. dan apa manfaat belajar kewirausahaan bagi mahasiswa ?
    II.      PEMBAHASAN
    A.    Hadits yang Berkaitan dengan Berwirausaha
    1.        Hadits tentang Kecintaan Allah terhadap Orang yang Berkarya
    عَنْ عَاصِمْ بْنِ عُبَيْدِ الله عَنْ سَالِمْ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ للهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُحْتَرِفَ (أخرجه البيهقى).
    Dari ‘Ashim Ibn ‘Ubaidillah dari Salim dari ayahnya, Ia berkata bahwa Rasulullah SAW. Bersabda: “Sesungguhnya Allah menykai orang mukmin yang berkarya.”(HR. Al-Baihaqy).

    2.      Hadits tentang Keseimbangan Hidup di Dunia dan di Akhirat
    عَنْ أَنَسَ بْنِ مَلِكٍ قَالَ ، قَالَ رَسُلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَيْسَ بِخَيْرِكُمْ مَنْ تَرَكَ دُنْيَاهُ لآخِرَتِهِ وَلا آخِرَتُهُ لِدُنْيَاهُ حَتىَّ يُصِيْبُ مِنْهُمَا جَمِيْعًا فَإِنَّ الدُّنْيَ بَلاغٌ إِلَى الآخِرَةِ وَلاَتَكُوْنُوْا كلاَّ عَلَى النَّاس   ( رواه الديلمي وابن عساكر ).
    “Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah SAW. bersabda: bukankah orang yang paling baik di antara kamu orang yang meninggalkan kepentingan dunia untuk mengejar akhirat atau meninggalkan akhirat untuk mengejar dunia sehingga dapat memadukan keduanya. Sesungguhnya kehidupan dunia mengantarkan kamu menuju kehidupan akhirat. Janganlah kamu menjadi beban orang lain. (HR. Ad-Dailamy dan Ibnu Asakir).

    3.      Hadits tentang nabi Daud AS. Makan dari Usahanya Sendiri
    عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيَكْرِبَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَن النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ قَالَ : مَا أَكَلَ اَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِيَّ الله دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَم كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ. (رواه البخارى ).
    “Dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib RA. : Nabi SAW. bersabda, “tidak ada makanan yang lebih baik dari seseorang kecuali makanan yang ia peroleh dari uang hasil keringatnya sendiri. Nabi Allah, Daud AS. makan dari hasil keringatnya sendiri.” (HR. Al-Bukhori).

    Penjelasan Hadits Berwirausaha
    Isi kandungan hadits pertama menjelaskan bahwa Allah SWT. lebih mencintai hamba-hambanya yang mukmin untuk berkarya atau bekerja keras. Seseorang yang berwirausaha mempunyai jiwa untuk berkarya dan biasanya mereka mempunyai karakter wirausahawan yang melekat pada dirinya, seperti proaktif, produktif, pemberdaya, dermawan, kreatif, inovatif, rendah hati, dan sifat baik lainnya.
    Bekerja keras bernilai ibadah dan mendapat pahala apabila dilakukan dengan ikhlas sesuai dengan tuntutan dan tidak bertentangan dengan ketentuan syari’ah. Islam memposisikan bekerja sebagai kewajiban kedua setelah shalat. Semua yang kita lakukan dalam berwirausaha akan dipertanggungjawabkan dalam pengadilan Allah di hari kiamat nanti. Baik cara mendapatkannya, mengumpulkannya, sumber kehalalannya, serta pemanfaatan harta yang dikumpulkan.
    Bekerja keras dengan etos kerja Islami maksudnya bekerja yang didasari budaya kerja Islami yang bertumpu pada akhlakul karimah. Ciri orang yang bekerja dengan etos kerja Islami nampak pada sikap dan prilaku dalam kehidupan sehari-hari seperti, leadership, menghargai waktu, ikhlas, jujur, berkomitmen, istiqomah, konsekuen, disiplin, percaya diri, kreatif, bertanggung jawab, berjiwa wirausaha, dan sebagainya.
    Hadits yang kedua, berkaitan dengan keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. Kehidupan yang baik ialah kehidupan seseorang yang mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhiratnya dengan menyadari bahwa kehidupan di dunia tidak abadi, dan bekal hidup di akhirat hanyalah amal shaleh yang dikerjakan selama hidup di dunia, seperti yang dikatakan orang Jawa; “Urip iku mung mampir ngobe”. Umat Islam dilarang untuk menjadi beban orang lain, maka dianjurkan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan kemampuannya sendiri, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ibnu Asakir, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup untuk selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok”.
    Hadits ketiga berisi anjuran makan dari hasil usaha sendiri. Rasulullah SAW.. menganjurkan umatnya supaya berusaha memenuhi hajat hidup dengan jalan apapun menurut kemampuan asal jalan yang ditempuh itu halal. Penjelasan hadits di atas bahwasanya nabi Daud AS. di samping sebagai Nabi dan Rasul, juga seorang raja. Diceritakan dalam hadits nabi SAW., bahwa apa yang dimakan oleh nabi Daud AS. adalah jerih payahnya sendiri dengan bekerja yang menghasilkan sesuatu sehingga dapat memperoleh uang untuk keperluan hidupnya sehari-hari.[6]
    B.     Pengertian Wirausaha
    Wirausaha/wiraswasta, secara etimologis (bahasa) terdiri dari tiga kata yaitu wiraswa, dan sta. Wira berarti perwira, utama, teladan, berani; swa berarti sendiri, dan sta berarti berdiri. Jadi wiraswasta keberanian berdiri sendiri di atas kaki sendiri. Secara luas pengertian wirausaha (wiraswasta) adalah orang yang berani membuka lapangan pekerjaan dengan kekuatan sendiri yang pada gilirannya tidak saja menguntungkan dirinya sendiri, tetapi juga menguntungkan masyarakat, karena dapat menyerap tenaga kerja yang memerlukan pekerjaan.
    Menurut istilah wirausaha berasal dari bahasa Perancis entrepreneur yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan arti between taker atau go-between untuk mengejar dan memanfaatkan peluang dengan menciptakan suatu organisasi. Menurut Drucker (1996) wirausaha adalah usaha untuk mencari perubahan, menaggapi, dan memanfaatkannya sebagai peluang. Di sini wirausaha dipahami sebagai pribadi yang mencintai perubahan karena dalam perubahan tersebut peluang selalu ada. Kewirausahaan adalah suatu gejala perilaku yang bersumber dari konsep atau teori, bukan kepribadian yang bersumber dari intuisi. Menurut Geoffrey G. Mendith, kewirausahaan merupakan gambaran dari orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil keuntungan dari padanya, serta mengambil tindakan yang tepat guna memastikan kesuksesan.
    Pendapat yang lain, pengertian wirausaha adalah orang yang mendobrak sistem ekonomi yang ada dengan memperkenalkan barang dan jasa yang baru dengan menciptakan bentuk organisasi baru atau mengolah bahan baku baru. Seorang wirausaha adalah orang yang melihat adanya peluang, kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut.  Jadi wirausaha adalah setiap orang yang memulai sesuatu bisnis yang baru. Sedangkan proses kewirausahaan meliputi semua kegiatan fungsi dan tindakan.
    C.    Prinsip dan Ketentuan Berwirausaha menurut Islam
    Ekonomi dan praktek bisnis Islami berkaitan erat dengan akidah dan syariat Islam sehingga seseorang tidak akan memahami pandangan Islam tentang ekonomi dan bisnis tanpa memahami dengan baik akidah dan syariah Islam. Keterkaitan dengan akidah menghasilkan pengawasan melekat pada dirinya dengan mengindahkan perintah dan larangan Allah yang tercermin pada kegiatan halal atau haram.
    Bisnis dalam ekonomi bahkan semua ilmu di dalamnya. Pandangan Islam, dalam oprasionalnya berpijak pada dua area:
    1.      Prinsip-prinsip dasar yang ditetapkan oleh Al-Quran dan Sunnah, dan ini bersifat langgeng abadi tidak mengalami perubahan.
    2.      Perkembangan positif masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi, yang berarti bersifat sementara karna bila ada suatu yang lebih baik, dimanapun ditemukan maka itu harus menggantikan tempat yang lama.
    Bebicara tentang prinsip dasar yang dianut oleh ajaran Islam, kita dapat menyimpulkan bahwa inti ajaranya adalah Tauhid. Melahir ketentuan yang bukan saja berkaitan dengan ekonomi atau bisnis, tetapi juga menyangkut segala aspek kehidupan dunia dan akhirat. Tauhid melahirkan keyakinan bahwa segala sesuatu bersumber dari Allah dan berkesudahan kepada-Nya.
    Karna Allah Mahaadil selalu memperhtikan kemaslahatan umat manusia, maka semua ketetapan hukum-Nya, demikian juga produk ijtihad manusia yang dikaitkan dengan nama-Nya, tentulah harus berlandaskan keadilan dan kemaslahatan.
    Kesatuan kemanusiaan mengantar pengusaha muslim menghindari segala bentuk eksploitasi terhadap sesama manusia muslim atau non-muslim. Diketahui mengapa Islam melarang bukan hanya riba tapi juga penipuan. Kesatuan kemanusiaan mengharuskan manusia berfikir dan mempertimbangkan kepentingan umat manusia seluruhnya dalam semua tindakan seperti memnfaatkan sumber daya alam bukan hanya digunakan untuk saat ini tapi juga memikirkan untuk masa depan.
    Kenyakinan akan kesatuan dunia dan akhirat, mengantarkan seseorang untuk memiliki visi yang jauh kedepan, dan tidak hanya berupaya mengejar keuntungan duniawi semata.
    secara umum dapat dikatakan bahwa ketentuan yang ditetapkan al-Quran dalam berbisnis, dapat digolongkan dalam 3 kelompok besar:
    1.      Hati dan kepercayaan
    Semua kegiatan yang dilakukan seorang muslim termasuk aktivitas bisnis harus dikaitkan dengan Allah SWT.
    2.      Moral pembisnis
    Islam menekankan sisi moralitas, karena hukum yang ditetapkan Allah, termasuk dalam aspek ekonomi maupun bisnis, selalu dikaitkan-Nya dengan moral yang melahirkan hubungan timbal balik yang harmonis.
    3.      Pengambangan harta
    Ada tiga kemungkinan pemilik harta dalam menggunakan hartanya, dibelanjakan, ditumpuk, dan diinvestasikan.
    D.    Sifat-sifat Dasar Kewirausahaan yang Dicintai Allah SWT.
    1.      Jujur
    Jujur merupakan sifat utama dan etika Islam yang luhur, juga merupakan motivator yang abadi dalam budi pekerti dan perilaku seorang muslim, sebagai salah satu sarana untuk memperbaiki amalnya, menghapus dosa-dosanya, dan sarana untuk bisa masuk ke surga.
    Berbsnis harus mempunyai komitmen dalam muamalahnya dan berlaku terus terang demi ketentraman sehingga Allah memberi keberkahan di dalamnya, dan mengangkat derajatnya. Berbisnis untuk memasarkan barang dagangnya harus dijauhkan dari iklan licik dan sumpah palsu, atau memberikan informasi yang salah tentang barang dagangnya hingga menipu pembeli.
    2.      Amanah
    Islam menginginkan pembisnis yang mempunyai hati nurani yang bisa menjaga hak-hak Allah dan manusia, serta bisa memproteksi muamalahnya dari tingkah laku yang mendorong untuk berbuat remeh dan lalai. Islam mewajibkan pembisnis untuk mempunyai sifat amanah terhadap diri sendiri maupun orang lain, dan tidak boleh meremehkan orang yang memberikan amanah. Karena amanah meupakan tanggung jawab besar lebih berat dari seluruh yang ada di dunia.
    3.      Toleransi
    Toleransi adalah kunci rezeki dan jalan kehidupan yang mapan. Manfaat di antaranya adalah mudah berinteraksi, mempermudah muamalah dan mempercepat berputarnya modal.
    4.      Memenuhi akad dan janji
    Islam memerintahkan umatnya untuk memenuhi hak, menghomati janji dan seluruh kesepakatan lainya.
    E.     Manfaat Belajar Kewirausahaan bagi Mahasiswa
    Sejak dini, cara berpikir orang muda perlu dibuka untuk mengetahui manfaat penting menjadi  wirausahawan. Jangan sampai ketekunan belajar di sekolah atau perguruan tinggi hanya mengarah pada satu target, yaitu mencari kerja saja. Beberapa tujuan dan manfaat mempelajari kewirausahaan bagi mahasiswa dan dunia pendidikan, yaitu:
    1.       Pendidikan saja sudah tidak cukup menjadi bekal untuk masa depan.
    2.      Kewirausahaan bisa diterapkan di semua bidang pekerjaan dan kehidupan.
    3.      Ketika lulusan perguruan tinggi kesulitan mendapatkan pekerjaan atau terkena PHK, kewirausahaan bisa menjadi langkah alternatif untuk mencari nafkah dan  bertahan hidup.
    4.       Agar sukses di dunia kerja atau usaha, tidak cukup orang hanya pandai bicara, yang dibutuhkan adalah bukti nyata/ realitas.
    5.      Memajukan perekonomian Indonesia dan menjadi lokomotif peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia.
    6.      Meningkatkan pendapatan keluarga dan daerah yang akan berujung pada kemajuan ekonomi bangsa.
    7.      Membudayakan sikap unggul, prilaku positif, dan kreatif.
    8.      Menjadi bekal ilmu untuk mencari nafkah, bertahan hidup, dan berkembang.

    III.   KESIMPULAN
    Simpulan pembahasan makalah di atas, bahwa menjadi seorang pengusaha (entrepreneur) tidak hanya mengutamakan aspek kehidupan duniawi saja, tetapi juga harus mementingkan aspek ukhrawi. Sehingga terjadi adanya keseimbangan di dalam kehidupan.
    Al-Qur’an dan al-Hadits sudah mengajarkan kepada manusia untuk berwirausaha seakan tidak akan pernah mati untuk mencapai dunianya, kemudian di sisi akhiratnya untuk mengingat apa yang yang paling dekat dalam hidupnya, yaitu kematian.

    IV.   PENUTUP
    Demikian makalah ini kami susun. Penulis menyadari dalam makalah ini masih banyak sekali kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dan kontruktif sangat diharapkan demi kesempurnaan karya ilmiah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat dijadikan sumber referensi dan bermanfaat bagi pembaca yang budiman.

    Dasar-dasar Kewirausahaan Panduan bagi Mahasiswa untuk Mengenal, Memahami, dan Memasuki Dunia Bisnis, (Jakarta, 8 November 2019. Muhammad Aulia Hafidz Al-Majied SE,.Lc.

والله أعلم

محمّد اوليآء حفيظ المجيد

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulumul Qur'an • Kaidah Penulisan Hamzah (Kaidah Imla dan Rasm)

Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM) Kaidah Penulisan Hamzah (Kaidah Imla dan Rasm) Cara menulis hamzah di awal, di tengah, dan di akhir Berbeda dengan huruf hijaiyah lainnya, hamzah mempunyai kaidah tersediri dalam penulisannya. Hamzah bisa ditulis dalam bentuk alif, ya’, wau, atau mandiri (seperti kepala ain). Di bawah ini akan dijelaskan cara penulisan hamzah dalam kaidah imla’ dan juga rasm utsmani. Penulisan Hamzah 1. Hamzah di awal kata Ketika hamzah berada di awal kata, maka di tulis dalam bentuk alif, baik hamzah qatha maupun hamzah washal. Perbedaanya kalau menulis hamzah qatha harus ada kepala hamzahnya (ء) di atas alif ketika berharakat fathah dan dhammah serta berada di bawah alif ketika berharakat kasrah. Sedangkan menulis hamzah washal berbentuk alif saja tanpa ada kepada hamzah. Contoh hamzah qatha: أَنْعَمْتَ – أُنَاسٌ - إِكْرَامٌ Contoh hamzah washal: اَلْأَنْهَارُ - اِبْنٌ - اُنْصُرْ === Perbedaan hamzah qatha dan hamzah washal === 2. Hamzah di tengah Hamza...

Enam (6) Kaidah Rasm Utsmani (Kaidah Penulisan Al-Qur'an)

Cyber Da'wah Aulia Media (CDAM) Kaidah Rasm Utsmani | Khath Utsmani | Rasmul Qur'an Rasm bisa diartikan atsar (bekas), khat (tulisan) atau metode penulisan. Rasm Utsmani atau disebut juga Rasmul Qur’an adalah tata cara penulisan Al-Qur’an yang ditetapkan pada masa khlalifah Utsman bin Affan. Istilah Rasmul Qur’an diartikan sebagai pola penulisan al-Qur’an yang digunakan Ustman bin Affan dan sahabat-sahabatnya ketika menulis dan membukukan Al-Qur’an. Yaitu mushaf yang ditulis oleh panitia empat yang terdiri dari Mus bin zubair, Said bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-harits. Mushaf Utsman ditulis dengan kaidah tertentu. Menulis Kaligrafi Al-Qur'an Kaidah rasm utsmani ada 6: 1. Hadzf (الْحَذْف) Hadzf artinya membuang. Nah dalam penulisan Al-Qur’an ada beberapa huruf yang dibuang. Huruf yang dibuang diantaranya alif, wau, ya’, lam dan nun. Contoh wau yang dibuang: اَلْغَاونَ (اَلْغَاوُوْنَ) Contoh ya’ yang dibuang: وَلِيَ دِيْنِ (دِيْنِيْ) Contoh lam yang dibuang: ...

Imam Al-Ghazali: Sang Hujjatul Islam

Imam Al-Ghazali: Sang Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali, yang terkenal dengan Hujjatul Islam (argumentator Islam) karena jasanya yang besar di dalam menjaga Islam dari pengaruh ajaran bid’ah dan aliran rasionalisme Yunani. Beliau lahir pada tahun 450 H, bertepatan dengan 1059 M di Ghazalah, suatu kota kecil yang terlelak di Thus wilayah Khurasan yang waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam. Para Ulama nasab berselisih pendapat dalam penyandaran nama Imam Ghazali ra, sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thus tempat kelahiran beliau ini dikuatkan oleh Al-Fayumi dalam Mishbahul Munir, penisbatan ini kepada salah seorang keturunan Imam Ghazali yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhammad bin Abi Thohir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah, anaknya Sitti Al-Mana Binti Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali yang mengatakan: “...